Pilih Kategori:
BiblikaDari AndaEksplorasi AlkitabEnsiklopedi TeologiEpiscopal MessagesInfoKesehatanKhotbah...MidrashTajukSemua Artikel |
Keesaan TUHAN
Materi Beth Midrash (1)
Dibaca sebanyak: 2111 kali |     | kirim ke teman
Keimanan agama Kristen berakar-tumbuh dan berkembang dari agama Yahudi, di mana memiliki keyakinan monoteisme yang ketat, suatu kewajiban umat Perjanjian Lama (PL) mengucapkan syahadat (pengakuan iman)-nya, yang di sebut shema’ i) (Ul. 6:4; 1 Tim. 2:5; Yoh. 17:3)...
MAAF! Untuk dapat membaca keseluruhan artikel ini, Anda harus mendaftar sebagai anggota situs ini dan melakukan login.
Jika Anda sudah terdaftar, silakan melakukan login untuk bisa membaca artikel ini
Kategori Artikel: Midrash Dimasukkan pada: 01 Des 2007 oleh: oyr79 Terakhir dimodifikasi pada: 01 Des 2007Tanggapan Pembaca:
⇒ Kirim Tanggapan joos1 (06 Mei 2010):
Dit onderwerp zou je
beter kunnen uitleggen
door middel van
Kabbala.
Het geeft een betere
inzicht, door logisch en
systematisch benadering
ervan.
Van een leerling van de
Beit Knesset in Leiden in
Holland
| Rabbi (31 Jul 2009):
 Dalam tata Bahasa
Ibrani, penggunaan bentuk
jamak tidak selalu untuk
menunjukkan bahwa sebuah
benda atau sesuatu hal
itu lebih dari satu.
Bentuk jamak dalam Bahasa
Ibrani juga dimaksudkan
untuk mengintensifkan
atau memperluas gagasan
yang dikemukakan dalam
bentuk tunggalnya.
Misalnya dalam
Yehezkiel 29:3, Firaun
disebut “buaya yang
besar” (TB LAI)
atau “great
dragon” (KJV).
Dalam naskah Ibraninya
digunakan kata
“tannim” yang
merupakan bentuk jamak
dari kata
“tan”
(binatang yang besar,
khususnya binatang sungai
atau laut).
Penggunaan bentuk jamak
di sini bukan menunjukkan
bahwa ada lebih dari satu
“tan,” sebab
kata “Firaun”
dalam ayat itu adalah
kata tunggal. Jadi, kata
“tannim” di
sini untuk menunjukkan
bahwa Firaun dijuluki
“tan” yang
paling hebat atau yang
paling besar.
Jadi, ketika El menjadi
Elohim, bukan berarti ada
lebih dari satu El,
melainkan untuk
menunjukkan bahwa Elohim
adalah “El”
Yang Maha Kuasa.
Bentuk jamak juga
sering digunakan untuk
menunjukkan sesuatu yang
sangat besar atau sangat
luas atau sesuatu yang
tidak terbilang, misalnya
“langit”
(shamayim) dan
“air”
(mayim). Keduanya selalu
muncul dalam bentuk
jamak: shamayim dan
mayim.
| kunardi (31 Jul 2009):
Kejadian 1:26.
Berfirmanlah Elohim:
"Baiklah Kita menjadikan
manusia menurut gambar
dan rupa KITA, supaya
mereka berkuasa atas
ikan-ikan di laut dan
burung-burung di udara
dan atas ternak dan atas
seluruh bumi dan atas
segala binatang melata
yang merayap di bumi."
Kejadian 1:27 Maka Elohim
menciptakan manusia itu
menurut gambar-Nya,
menurut gambar Elohim
diciptakan-Nya dia;
laki-laki dan perempuan
diciptakan-Nya mereka.
TUHAN berfirman: “Baiklah
KITA menjadikan manusia
menurut gambar dan rupa
KITA.”
Penggunaan kata KITA atau
KAMI di sini menunjuk
pada lebih dari satu
entity.
Kita simak ayat
berikutnya:
Kejadian 3:22.
Berfirmanlah YAHWEH
Elohim: "Sesungguhnya
manusia itu telah menjadi
seperti SALAH SATU dari
KITA, tahu tentang yang
baik dan yang jahat; maka
sekarang jangan sampai ia
mengulurkan tangannya dan
mengambil pula dari buah
pohon kehidupan itu dan
memakannya, sehingga ia
hidup untuk
selama-lamanya."
TUHAN berfirman:
"Sesungguhnya manusia itu
telah menjadi seperti
SALAH SATU dari KITA.”
Dengan pemakaian kata:
“SALAH SATU dari KITA”
ini berarti memperjelas
identitas ELOHIM yang
sesungguhnya. Di dalam
KEESAAN-NYA terdapat
beberapa Pribadi yang
akhirnya dinyatakan dalam
zaman Perjanjian Baru.
Matius 28:19 Karena itu
pergilah, jadikanlah
semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam
nama Bapa dan Anak dan
Roh Kudus,
Elohim sendiri bentuk
jaman dari El/Eloah.
namun kata Elohim yg
"jamak/plural" tetapi
berfungsi tunggal.
Inilah uniknya kata
"Elohim", sehingga kata
"Elohim" tidak bisa
diterjemahkan kedalam
bahasa indonesia, apalagi
diterjemahkan menjadi
"Allah" (dalam Alkitab
terjemahan LAI)
lha wong "Allah" itu NAMA
tuhannya orang Islam.
Dengarlah Israel, YAHWEH
itu Tuhan kita, YAHWEH
itu Esa!" (Ul. 6:4)
Dlm bhs Ibrani kata Esa
ada 2 macam :
Echaad = esa tetapi
jamak
yacheed = esa/satu
kata Esa yg dipergunakan
dalam Ulangan 6:4 adalah
"Echaad".
Saya berpendapat :
mengingat kita belum
pernah MELIHAT TUHAN
secara langsung. dan
berdasarkan TEKS-TEKS
yang tertulis dalam
Alkitab, dan dengan
menggunakan AKAL MANUSIA
yg terbatas ini, maka
TUHAN itu ada 3.
ke-ESA-AN Tuhan adalah
merupakan KESATUAN dari 3
WUJUD pribadi yang TIDAK
DAPAT DIPISAHKAN.
Jadi ke-esa-an Tuhan kita
TIDAK sama dengan
ke-esaan tuhannnya agama
lain.
| habel (14 Mar 2009):
Saya mengamati secara
sederhana. Jika anda
percaya bahwa Dosa sudah
lebih dahulu ada daripada
penciptaan Manusia, maka
akan mudah untuk memahami
mengapa manusia jatuh
kedalam dosa, sekaligus
keberadaan Allah dalam
pandangan yang Rohaniah
dan sikapNYA yang begitu
rohaniah terhadap Dosa
dan Manusia. Hal tersebut
pada akhirnya ikut
berpengaruh kepada
terbentuk nya TriTunggal
| cosmicboy (11 Mar 2009):
 Saya tidak fikir Allah
TriTunggal sukar dicerna.
Bagi orang beriman,
pegangannya ialah wahyu
Al-Kitab. Dasar
kepercayaan ini
seharusnya bersumber dari
sana. Lewat penelitian
saya, Allah TriTunggal
ADA dengan sendirinya,
tidak diciptakan, Qadim
dan
Qidam. Masala
hnya ialah kekeliruan
kita. Kita terlalu
dipengaruhi oleh
monoteisme mutlak yang
kita fikir
bercanggah/berlawanan
dengan kepercayaan akan
Allah
TriTunggal. S
dr, 'TriTunggal"
hanyalah nama yang telah
diterima pakai dan diguna
pakai sepanjang sejarah
iman Kristen@ Gereja.
Tentunya, ada hikmat
disebalik pemakaiannya.
Dengan penerimaan akan
istilah ini, maka
pengertian kita akan
Allah yang Tritunggal
semakin jelas. Tapi sdr,
andaikata tidak ada
istilah ini, apakah akan
timbul masalah salah
pengertian@ salah konsep.
Tidak, sama sekali tidak
asalkan kita berpegang
teguh kepada kitab suci,
Al-Kitab Al-Muqqadesh. Di
dalamnya ada tersurat
mahupun tersirat akidah
Allah TriTunggal.
Kebiasaannya, Allah kita
adalah Satu secara Dzat
tapi Tiga Peribadi dari
Dzat itu, Bapa, Anak
& Ruhul Qudus. Ini
sama seperti kita
mengatakan bahawa Allah,
Kalam-Nya dan Roh-Nya
adalah dari Dzat yang
Satu@ Sama. Nah, saya
tidak nampak adanya 3
Allah melainkan Satu,
Esaa, Ehad. Inilah iman
kita kepada Allah Tri
Tunggal. Syal
om.
| cosmicboy (11 Mar 2009):
 Saya tidak fikir Allah
TriTunggal sukar dicerna.
Bagi orang beriman,
pegangannya ialah wahyu
Al-Kitab. Dasar
kepercayaan ini
seharusnya bersumber dari
sana. Lewat penelitian
saya, Allah TriTunggal
ADA dengan sendirinya,
tidak diciptakan, Qadim
dan
Qidam. Masala
hnya ialah kekeliruan
kita. Kita terlalu
dipengaruhi oleh
monoteisme mutlak yang
kita fikir
bercanggah/berlawanan
dengan kepercayaan akan
Allah
TriTunggal. S
dr, 'TriTunggal"
hanyalah nama yang telah
diterima pakai dan diguna
pakai sepanjang sejarah
iman Kristen@ Gereja.
Tentunya, ada hikmat
disebalik pemakaiannya.
Dengan penerimaan akan
istilah ini, maka
pengertian kita akan
Allah yang Tritunggal
semakin jelas. Tapi sdr,
andaikata tidak ada
istilah ini, apakah akan
timbul masalah salah
pengertian@ salah konsep.
Tidak, sama sekali tidak
asalkan kita berpegang
teguh kepada kitab suci,
Al-Kitab Al-Muqqadesh. Di
dalamnya ada tersurat
mahupun tersirat akidah
Allah TriTunggal.
Kebiasaannya, Allah kita
adalah Satu secara Dzat
tapi Tiga Peribadi dari
Dzat itu, Bapa, Anak
& Ruhul Qudus. Ini
sama seperti kita
mengatakan bahawa Allah,
Kalam-Nya dan Roh-Nya
adalah dari Dzat yang
Satu@ Sama. Nah, saya
tidak nampak adanya 3
Allah melainkan Satu,
Esaa, Ehad. Inilah iman
kita kepada Allah Tri
Tunggal. Syal
om.
| tzione (24 Jan 2008):
 shalom
aleychem, YHWH itu
esa adanya, "sh'ma
yisrael HaShem elohaynu
HaShem echad" YHWH
itu adalah El Avraham, di
dalam Kabbalah ( mistisme
Yudaisme ) YHWH itu Eyn
Sof ( tak terhingga/tak
terbatas ) dan dari
Eyn Sof itu memancar
Sefirot (
hakikat Eyn
Sof ) dari
Sefirot membentuk
t'lita/triun Abba,
ben-Yah dan Emma dan
ketiganya satu dalam Eyn
Sof yang
Esa shalom
| shem (09 Jan 2008):
 Untuk
Zebaoth, Sebenarnya
bukan terlalu tinggi
dicerna, melainkan kita
masih membaca dengan
paradigma lama, yaitu
dalam konteks cara
pandang Helenis ataupun
Western
Theology. Istilah
Tritunggal pun merupakan
suatu kerancuan dalam
teologi Kristen. Dalam
Kitab Suci tidak pernah
ada istilah
Tritunggal. TaNaKh
maupun Brit Khadasha
sangat jelas mengajarkan
bahwa YHWH itu Ekhad [Ul
6:4-5, Mrk
12:29]. Jika Tuhan
itu Tiga Pribadi,
bagaimana mungkin Yahshua
secara ontologis keluar
dan datang dari Bapa
[Yokhanan 8:42] demikian
pula Ruakh ha Qodesh
[Yokhanan 15:26]? 2
ayat di atas sangat jelas
memberikan indikasi
terarah bahwa baik YHWH,
Firman-Nya dan Roh-Nya
setara dan sehakikat
dalam kekekalan [Kej
1:1-3] dan dalam konteks
historis demi karya
penyelamatan, maka Sang
Firman keluar dan menjadi
manusia Yahshua [Yokhanan
1:14] dan Ruakh ha Qodesh
beriam dalam diri orang
beriman [Kis 2]. Inilah
yang disebut Keesaan Bapa
Putra Roh
Kudus. So,
redefinisi istilah
Tritunggal sekarang juga,
bahkan dekonstruksi
sekarang
juga! Shem
| zebaoth_08 (28 Des 2007):
 Terlalu tinggi
kayaknya untuk di
cerna... Teman2
bagaimana caranya
menjelaskan
ketritunggalan Allah
kepada Non
Kristen?
| shem (08 Des 2007):
 Secara historis, tidak
dapat disangkal bhwa
Yitskhaq dan Yishmael
"satu kemah"
dengan Avraham. Dan jika
merujuk Torah, Elohim
yang disembah Avraham
adalah YHWH [Anoki
YaHWeH] Elohey Avraham,
we Elohey Yitskhaq, we
Elohey Ya'aqov...,Kel
3:15]. Logikanya,
sekalipun Yishmael bukan
"ben ha berit",
namun tentunya dia
mewarisi monoteisme
Avraham pada YHWH.
Persoalannya
adalah, Islam mengklaim
bahwa mereka
keturunan Avraham
[tidak ada catatan
arkeologis yang
membuktikan Avraham
pernah membawa Yishmael
mendirikan Ka'bah di
Mekkah, selain Hadits
Islam] namun mereka sama
sekali tidak mengenal
nama Yahweh. Sekalipun
Muhamad mengklaim
"wa ilahuna wa
ilahukum wahid" [Qs
49:26] namun nama Ilah
yang dia maksud adalah
Allah [Qs 20:14, inani
anallahu la ilaha ila
ana, ini pewahyuan Allah
pada Musa, yang berbeda
dengan pernyatan YHWH
pada Moshe dalam Kel
3:15]. Jika memang
Islam benar mengklaim
kesetaraan monoteistiknya
bersumber dari Avraham,
seharusnya mereka
mengenal dan menyembah
Yahweh dan bukan Allah?
Saya setuju dengan
pendekatan "Kemah
Abraham" dalam
menjangkau Islam dengan
menggali unsur-unsur
semitik dalam Kristen dan
Islam sebagai pewaris
semitisme Avraham. Namun
menyamakan begitu saja
"oknum
Ketuhanan" yang
disembah, agaknya
menyulitkan saya untuk
memahaminya.
Shem
|
SILAKAN LOGIN UNTUK BISA MEMBERIKAN KOMENTAR << sebelumnya | berikutnya >>
total: 10 data
|