Situasi yang parah di Yerusalem membuat Rabbi Yokhanan dipindahkan ke kota Yavne atau yang dalam Bahasa Latin disebut "Iamnia." Di sana, ia mendirikan sebuah sekolah hukum Yahudi, yang di kemudian hari banyak memberikan kontribusi bagi penyusunan Mishna, bahkan menjadi sumber dari penyusunan Midrash, Talmud dan Aggada (literatur lain menyebut sekolah hukum Yahudi di Yavne ini dengan sebutan Kolese Yavne. Ada juga yang menyebutnya Akademi Yavne).
Sekolah hukum Yahudi di Yavne diyakini sebagai penerus dari Sanhedrin Agung di Yerusalem. Sanhedrin Agung Yerusalem inilah yang memegang kendali utama dalam peristiwa penyaliban Yesus. Bahkan, menurut penulis Injil Matius, Sanhedrin Agung ini bertanggung jawab atas kebohongan-kebohongan seputar hilangnya mayat Yesus.
Sebagai penerus Sanhedrin Agung Yerusalem, sekolah hukum Yahudi di Yavne memegang peran vital dalam penyusunan hukum-hukum Yahudi. Sejumlah pakar hukum Yahudi yang terkenal pun banyak dilahirkan dari sekolah ini, di antaranya Rabbi Gamaliel Yavne (Gamaliel II), yang terkenal karena diskusinya di Roma dalam membela iman Yahudi terhadap kaum pagan dan Kristen, serta Rabbi Akibba ben Yosef (Rabbi Akiva), yang terkenal karena otoritasnya dalam hal tradisi Yahudi serta sumbangan-sumbangan pentingnya dalam penyusunan Mishna dan Midrash Halakha.
Hal lain yang cukup menonjol dari sekolah ini adalah disusunnya liturgi-liturgi dan doa-doa Yahudi ke dalam bentuk permanen. Di sini juga, Targum Pentateukh diedit dan kemudian menjadi landasan bagi Targum Onqelos.
Ketika Yahudi memasuki masa kegelapan, yaitu ketika Bahasa Ibrani nyaris menjadi bahasa mati dan ketika banyak orang Yahudi yang menjadi Kristen, para ahli dari sekolah ini berkumpul dan mengadakan Konsili pada tahun 90-95 M, yang kemudian dikenal dengan nama Konsili Yavne atau Konsili Yamnia.
Dua keputusan penting dari Konsili ini adalah penolakan terhadap Septuaginta (LXX) dan kutukan terhadap kaum Minim. Kutukan ini mendapat respon dari sejumlah bapak-bapak gereja pada waktu itu.
Dampak dari Konsili ini adalah ditetapkannya penggunaan Bahasa Ibrani untuk kepentingan agama (bahkan bagi orang-orang Yahudi di luar Israel) serta pemisahan antara Yahudi dan Kristen. Meski begitu, banyak orang Kristen yang dulunya beragama Yahudi, masih beribadah di sinagoge-sinagoge Yahudi sampai akhir abad pertama masehi.
Dalam hal Kanon Perjanjian Lama, Konsili Yavne menolak tujuh kitab yang ada dalam Septuaginta (LXX). Setidaknya ada empat kriteria yang ditetapkan dalam Konsili ini mengenai kitab-kitab yang layak masuk kanon. Keempat kriteria tersebut adalah:
1. Harus sesuai dengan Pentateukh
2. Harus ditulis dalam Bahasa Ibrani
3. Harus ditulis di Palestina
4. Harus ditulis sebelum tahun 400 SM.
Berdasarkan keempat kriteria di atas, maka tujuh kitab yang ada dalam Septuaginta (LXX) yang ditolak adalah:
1. Baroukh (Barukh), karena tidak ditulis di Palestina
2. Sofia Iesou Seirakh (Hikmat Yesus Sirakh), karena ditulis setelah tahun 400 SM
3. Makkabaion Alfa (1Makkabe), karena ditulis setelah tahun 400 SM
4. Tobit dan beberapa bagian dari kitab Daniel dan Ester, karena ditulis dalam Bahasa Aram dan ditulis di luar Palestina
5. Ioudith (Yudit), karena ditulis dalam Bahasa Aram
6. Sofia Salomontos (Hikmat Salomo), karena ditulis dalam Bahasa Yunani
7. Makkabaion Beta (2Makkabe), karena ditulis setelah tahun 400 SM dan ditulis dalam Bahasa Yunani [oyr79].
Daftar Istilah
Aggada -- salah satu literatur dari zaman para Rabbi Yahudi mula-mula berupa tafsir-tafsir terhadap tulisan-tulisan non-hukum, misalnya: cerita rakyat, anekdot-anekdot sejarah, serta nasihat-nasihat moral, bisnis, dan medis. Termasuk juga mitos-mitos penciptaan serta peristiwa-peristiwa sejarah yang luar biasa
Bait Suci Kedua -- Bait Suci di Yerusalem yang dibangun pada zaman Ezra dan berdiri pada tahun 516 SM – 70 M. Tahun 19 SM, direnovasi oleh Herodes Agung
Kanon -- kumpulan kitab yang dianggap layak untuk disebut “kitab suci”
Midrash -- kumpulan pengajaran-pengajaran tentang metode-metode penafsiran Kitab Suci Yahudi. Midrash berbentuk hukum dan tafsiran Tanakh (Perjanjian Lama)
Midrash Halakha – hukum-hukum yang bersumber dari Tanakh
Minim -- sebutan orang-orang Yahudi terhadap kelompok Yudeo-Kristen (Kristen Yahudi), Gnostik, dan kaum Nazarene
Mishna -- (lihat juga Talmud) kumpulan hukum-hukum lisan Yahudi, khususnya di kalangan Farisi, yang menjadi bahan perdebatan sepanjang tahun 70-200 M oleh suatu kelompok Rabbi yang disebut Tannaim (lihat Tanna)
Pentateukh -- kelima kitab Musa (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan)
Rabbi -- sebutan bagi guru-guru agama Yahudi yang telah mencapai semikha (tradisi pentahbisan Rabbi bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan menurut Hukum Yahudi)
Sanhedrin -- suatu dewan hukum (mahkamah) yang terdiri dari 23 hakim Yahudi, yang terdapat di hampir semua kota
Sanhedrin Agung -- sanhedrin yang terdiri atas 71 hakim Yahudi, yang memegang wewenang hukum tertinggi dan menjadi semacam Mahkamah Agung bagi Kerajaan Israel kuno
Septuaginta -- naskah Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani koine oleh para ahli agama Yahudi di Aleksandria (baca SUKA edisi sebelumnya)
Sinagoge -- berasal dari kata sunagôgê dalam Bahasa Yunani berarti “perkumpulan.” Bahasa Ibraninya adalah beth knesseth (rumah perkumpulan), yaitu sebutan untuk tempat beribadah bagi orang-orang Yahudi dan Kristen mula-mula
Talmud -- kumpulan diskusi para Rabbi Yahudi mengenai hukum, etika, tradisi dan sejarah. Talmud terdiri dari dua komponen: Mishna dan Gemara
Tanna -- Rabbi yang bertugas sebagai guru, pembuat hukum dan penghubung dengan Kerajaan Romawi pada periode 70-200 M. Kumpulan para tanna disebut tannaim, begitu juga periode mereka disebut periode tannaim
Targum -- naskah Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Aram, dimana di dalamnya juga dimasukkan tafsir para Rabbi. Ada dua Targum yang digunakan untuk liturgi, yaitu Targum Onqelos (Taurat) dan Targum Yonathan ben Uzziel (Kitab Para Nabi)
Targum Onqelos -- Targum yang berisi kitab-kitab Taurat dan ditulis oleh Onqelos (35-120 M) [oyr79]
ke atas