Belum lagi ekspansi industri di berbagai negara yang mengakibatkan menipisnya lapisan ozon yang berdampak pada pemanasan global serta radiasi ultraviolet yang membahayakan mahluk hidup di bumi.
Globalisasi membawa umat manusia pada kesenjangan sosial, ekonomi, dan budaya yang terlalu mencolok. Negara-negara maju terlalu mendominasi perekonomian dunia, mengakibatkan munculnya imperialisme dan resesi ekonomi di banyak negara berkembang dan negara tertinggal.
Hal ini memunculkan berbagai ekspresi ketidakpuasan, mulai dari gerakan-gerakan anti-globalisasi hingga radikalisme agama dan terorisme. Musuh-musuh baru kemanusiaan pun terlahir, nilai-nilai
homo homini socius (manusia sebagai mahluk sosial) menipis dan
homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi yang lain) kembali menguat. Demi melawan terorisme, warga dihimbau untuk mencurigai tetangganya. Dunia pun semakin dikuasai kegelapan.
Hampir setiap bulan, setiap minggu bahkan setiap hari, dalam kurun waktu satu tahun ini bangsa ini sesak dipenuhi sekian tragedi, musibah dan penindasan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan.
Perbedaan dan kemajemukan sebagai rahmat dan disain TUHAN tak lagi dihormati. Fanatisme telah menutup mata batin dan mata hati, sehingga tanpa rasa bersalah tempat ibadah ditutup, dirusak, dibakar dan dihancurkan.
Dengan ringan sekelompok orang atas dasar pembelaan prinsip ideologi, keyakinan, bahkan atas nama TUHAN menghilangkan puluhan dan ratusan nyawa manusia tak berdosa. Kita patut bertanya, “Bagaimana mungkin surga dapat diraih dengan aksi keji berlumur darah dan tetesan tangis penderitaan sesama?”
Di tengah kondisi hancurnya nurani kemanusiaan, bangsa ini masih harus dibebani dengan berbagai krisis yang tak kunjung usai. Kesenjangan sosial-ekonomi akibat kebijakan yang semakin tidak sensitif dengan jeritan nurani rakyat dan hanya menguntungkan sekelompok kecil pemilik modal besar, serta makin suburnya budaya dan praktek korupsi menambah beratnya hidup rakyat Indonesia. Di sisi lain, menggunungnya hutang luar negeri mengakibatkan seorang bayi lahir di negeri ini membawa hutangnya sendiri, sekitar 4 sampai 5 juta rupiah!
Dalam wajah yang lain, zaman yang semakin mengglobal ini telah menunjukkan bahwa pluralisme adalah keniscayaan sebuah peradaban. Sekat geografis antar negara nampak semakin kabur. Masing-masing negara/bangsa, budaya, agama tak dapat lagi berdiri sendiri tanpa saling mempengaruhi dan saling mengisi satu dengan yang lain. Sehingga penderitaan dan penghianatan spiritual satu kelompok agama akan berpengaruh dan menjadi tanggung jawab bagi semua agama.
Problem kemanusiaan bukan lagi monopoli satu agama saja, tetapi telah menjadi musuh bersama semua agama. Atas dasar inilah tindakan terorisme yang mengabaikan nilai kemanusiaan merupakan penghianatan dan lawan bagi semua agama yang menjunjung tinggi dan menghormati harkat dan martabat kemanusiaan.
Kekerasan dan kejahatan atas nama TUHAN atau atas nama apapun merupakan problem kemanusiaan yang akan selalu ada dalam setiap zaman. Karena itulah “nabi” selalu diturunkan Allah untuk membuat suatu pencerahan bagi umatnya di setiap zaman. Sebab, semangat pencerahan sejati selalu memiliki misi bagi perubahan situasi ke arah yang lebih baik. Dalam tujuan ini dibutuhkan refleksi yang jujur, keterbukaan terhadap hal-hal baru, kritisisme yang cukup, pengetahuan yang luas dan keberanian untuk berbuat demi kepentingan orang banyak, meskipun harus menentang arus utama.
Proses inilah yang pada gilirannya nanti akan menciptakan kedewasaan iman yang akan menggeser semangat fanatisme sempit kekanak-kanakan yang selalu cenderung membenarkan diri sendiri dan tertutup pada kebenaran yang datang dari luar dirinya. Fanatisme berakar pada kesempitan dan kedangkalan berpikir, sedangkan pencerahan selalu menuntut keluasan, kecerdasan, dan perubahan. Spirit pencerahan semacam inilah yang semestinya menjadi pilar utama bagi setiap kita untuk keluar dari dunia yang semakin dikuasai oleh kegelapan.
***
Pada bulan Desember 2005 ini kita merayakan dua hari raya, yaitu Natal Yeshu’a Hammashiakh (25 Desember) dan
Khanukka atau Festival Terang (25-31 Desember atau 24-30 Kisleu 5766 Ibr).
Natal mengingatkan kita ketika Firman YHWH mengambil rupa (
morfe) manusia untuk menjalankan karya penebusan-Nya. Peristiwa Natal hendaknya kita jadikan momen merefleksikan makna kelahiran Sang Juruselamat dalam segala kesederhanaan-Nya. Momen Natal juga menjadi momen terbaik bagi kita untuk menegakkan perdamaian sebagaimana misi Mashiakh itu sendiri.
Peristiwa “Natal kelabu” dalam beberapa tahun belakangan ini, mulai dari konflik Ambon, peristiwa bom malam Natal, sampai gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, hendaknya memicu kita untuk lebih mempertinggi solidaritas kebangsaan dan bersama-sama mewujudkan keharmonisan antar umat beragama di negara ini.
Khanukka menjadi momen peringatan pemakaian kembali Bait Allah (
Beth Elohim) dan kebebasan beribadah. Marilah kita mengingat kembali ketika Antiokhus IV, Raja Yunani, menyita
Beth Elohim dan memerintahkan penyembahan terhadap Zeus. Suatu bentuk keberagamaan yang tidak kompromi terhadap pluralisme, yang memicu perlawanan komunitas Yahudi di Modiin. Peristiwa itulah yang melatarbelakangi perayaan
Khanukka, ketika TUHAN mendatangkan kehancuran terhadap suatu rezim yang otoriter dan tidak menghargai pluralisme.
Kita tentu saja prihatin dengan sikap kelompok-kelompok tertentu yang melakukan penutupan paksa dan pengrusakan tempat ibadah. Kita juga prihatin terhadap adanya larangan untuk menyelenggarakan ibadah, seolah-olah beribadah menjadi ancaman bagi kehidupan bangsa. Keprihatinan juga patut kita tunjukkan untuk sikap yang tidak menghargai perbedaan dan kemajemukan di negara ini.
Keprihatinan kita dapat kita wujudkan melalui dukungan kita terhadap setiap bentuk pencerahan umat dimanapun dan oleh siapapun agar tidak tercipta sikap-sikap fanatisme sempit yang mengarah pada upaya memecah-belah umat dan mengancam persatuan dan keutuhan bangsa dan negara kita ini.
Kemah Abraham sendiri menaruh perhatian serius terhadap upaya ini. Berbagai bentuk pencerahan umat akan terus kami jalankan dan tularkan melalui berbagai program kami, baik itu melalui ibadah semitik, mimbar kerabat,
beth sefer,
beth mishna,
beth midrash, hingga penggunaan media-media informasi dan komunikasi lainnya seperti Suara Kemah Abraham (SUKA) dan Besorah Online (www.besorahonline.com).
Upaya ini membutuhkan kerja keras bersama, sebab apa yang kita tabur pada tahun ini dan tahun yang akan datang, itu jugalah yang nantinya akan kita tuai di masa mendatang. Sama seperti Ishak yang tidak membiarkan tanahnya kosong begitu saja, melainkan ia menabur di tanah yang diberikan TUHAN itu kepadanya, sehingga ia boleh memperoleh hasil yang berlipat kali ganda (Kejadian 26:12,13).
Kita bersama-sama mengamini bahwa setiap orang telah diberi potensi oleh TUHAN, tinggal bagaimana kita memanfaatkan potensi yang ada agar tidak menjadi sia-sia. Marilah kita mencontohi Yakub, hanya dengan bekal sebuah tongkat ketika menyeberangi sungai Yordan, tetapi karena penyertaan TUHAN, ia boleh memperoleh dua pasukan (Kejadian 32:9,10).
***
Akhirnya, sambil terus memanjatkan doa ke hadapan YHWH Yang Maha Esa, kami berharap di tahun 2006 nanti, segala perubahan ke arah yang lebih baik akan terjadi, baik perubahan individual, keluarga, kelompok, bangsa dan negara, maupun perubahan secara global.
Biarlah kiranya semangat
Rosh Hashshana menjadi semangat kita saat akan meninggalkan tahun 2005 ini. Kita melakukan refleksi dan evaluasi terhadap segala sesuatu yang kita lakukan dan alami di tahun 2005 ini serta membangun komitmen baru agar di tahun 2006 nanti akan menjadi tahun yang harum seperti apel dan manis seperti madu.
Selamat Hari Natal (25 Desember 2005), Khanukka (24-30 Kisleu 5766 Ibr), dan Tahun Baru 2006
Yom Hulledeth Kemah Abraham (1 Januari 2006)
Elohim Yevarekh Othkha!
Majelis Keimamatan
Kemah Abraham,
DR. K.A.M. Jusufroni
Imam al-Kanisahke atas