Artikel
 
Pilih Kategori:
Google

  • Biblika
  • Dari Anda
  • Eksplorasi Alkitab
  • Ensiklopedi Teologi
  • Episcopal Messages
  • Info
  • Kesehatan
  • Khotbah...
  • Midrash
  • Tajuk
  • Semua Artikel
  • Yudeo-Kristen

    Dibaca sebanyak: 731 kali | | kirim ke teman

    Oleh: Yosi Rorimpandei
    Beri nilai artikel ini: bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)

    Rabbi Eliezer Berkowitz, ketua departemen filsafat pada Kolese Teologi Ibrani, pada tahun 1966 berkata "Yudaisme adalah Yudaisme sebab ia menolak Kekristenan; dan Kekristenan adalah Kekristenan sebab ia menolak Yudaisme."


    baca lanjutan


    Pada tahun 1999, John Crossan mengatakan "Adalah suatu kekeliruan jika mengatakan Kekristenan adalah turunan dari Yudaisme modern. Lebih baik mengatakan bahwa gagasan yang berkembang pada akhir periode Bait YHWH Kedua telah memunculkan dua agama: Kekristenan dan Yudaisme rabbinik, keduanya sama-sama mengklaim sebagai penerus agama asli. Keduanya tidak bisa dikatakan sebagai ibu dan anak; mereka adalah saudara. Sama seperti Kain dan Habel."

    Jadi, apa yang disebut dengan "Yudeo-Kristen" (Judeo-Christian atau Judeo-Christianity)?

    Istilah ini, menurut Kamus Bahasa Inggris Oxford, baru digunakan pada tahun 1899 dan 1910 ketika terjadi diskusi mengenai pentingnya memahami Kekristenan sebagai agama yang lahir atau berangkat dari Yudaisme. Gagasan Yudeo-Kristen juga digunakan dalam upaya melawan sikap-sikap anti-Semit pasca genosida yang dilakukan Hitler terhadap warga Yahudi.

    Dalam dunia teologi, Yudeo-Kristen digunakan untuk menyebutkan kekristenan yang tidak ingin kehilangan tradisi mula-mula pada zaman rasuli. Bagaimana pun kekristenan tidak bisa dilepaskan dari Yudaisme, sebab ia mewarisi kitab suci yang sama, doktrin-doktrin fundamental yang sama (seperti monoteisme), kepercayaan kepada Mesias, bentuk ibadah dan sistim keimamatan, serta banyak lagi.

    Gereja Ortodoks, Katolik, dan gereja-gereja mainstream (arus utama) sebetulnya masih memelihara tradisi-tradisi Yudaisme. Tradisi kantilasi ayat-ayat alkitab, penggunaan liturgi berbalasan, penggunaan mazmur sebagai nyanyian, simbol-simbol, baptisan, perjamuan roti dan anggur, penggunaan jubah bagi imam, hingga penetapan hari raya (khususnya Paskah dan Pentakosta) tidak lepas dari pengaruh Yudaisme.

    Sejumlah perayaan gerejawi justru merupakan bentuk lain dari perayaan Ibrani, misalnya tradisi "pengucapan syukur" di beberapa gereja mainstream, sebetulnya adalah bentuk lain dari Sukkoth dalam tradisi Ibrani.

    Kehadiran gerakan fundamentalisme di Amerika Serikat di satu sisi berdampak positif pada gereja, dimana gereja semakin menerima perubahan-perubahan modern dan semakin bebas dalam menafsirkan alkitab tanpa kuatir akan terlepas dari kemurnian imannya. Meskipun fakta berbicara lain (tidak sedikit tafsir alkitab fundamentalis yang tidak jelas asal-usulnya dalam tradisi gereja).

    Di sisi lain, fundamentalisme membuat gereja kehilangan tradisi mula-mula. Bahkan, liturgi ibadah dirancang menjadi sarana pemuas spiritual, bukan lagi sarana menyampaikan pesan teologi dan Firman TUHAN, sebagaimana dipahami dalam Yudaisme dan gereja-gereja tradisional (Ortodoks, Katolik, dan mainstream). Dengan kata lain, fundamentalisme telah menyulap gereja menjadi "ruang konser spiritual."

    Di era sekarang, Yudeo-Kristen menjadi alternatif bagi gereja jika ia tidak ingin kehilangan corak mula-mulanya, sebab "tradisi" adalah kekuatan sejarah. Ia adalah saksi setia atas apa yang terjadi pada masa lalu. Ia juga sekaligus merupakan kekuatan yang dapat mempertemukan, menyatukan, dan mengokohkan. Belajar dari tradisi berarti belajar dari guru yang tidak pernah mati [oyr79].


    ke atas
    Masukkan Username/Email dan Password Anda
    untuk login ke situs ini

    Username/Email:

    Password:

    Daftar | Lupa password

    Shalom 38.107.191.101!

    Jika Anda merasa bahwa artikel ini penting untuk dibagikan ke teman Anda, silakan kirim ke teman Anda

    Atau beri nilai artikel ini:
    bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)
    Kategori Artikel: Ensiklopedi Teologi
    Dimasukkan pada: 06 Nov 2007 oleh: oyr79
    Terakhir dimodifikasi pada: 06 Nov 2007

    Tanggapan Pembaca:

    Kirim Tanggapan

    oyr79 (13 Nov 2007):
    Octafred Yosi RTerima kasih, semoga situs Anda dapat memperkaya wacana keimanan, khususnya terkait isu-isu Messianik di Indonesia


    shem (13 Nov 2007):
    shem

    Shalom Alaika,

    Saya sepakat dengan apa yang Anda tulis. Saya pribadi mengembangkan visi BACK TO HEBRAIC ROOT THEOLOGY. Gereja musti back to hebraic root atau kembali kepada nilai-nilai semitik. Sekalipun saya tidak terlalu sepakat dengan terminologi Yudeo Kristen, namun saya mengganggap bahwa komunitas-komunitas serupa ini bisa dikatakan mewakili suatu pergerakan Back to Hebraic Root pula.

    Jika tidak berkeberatan, saya mengundang juga Anda dan penanggap lainnya dari artikel ini untuk mengkaji tulisan kami berjudul AKAR PENOPANG dan juga YAHSHUA, YAHUDI, YUDAISME, di messianic-indonesia.c om

     

    Lehit Raot Shalom 


    SILAKAN LOGIN UNTUK BISA MEMBERIKAN KOMENTAR


    << sebelumnya | berikutnya >>
    total: 2 data

     
    LOGIN: Username/Email: Password:
    Jika Anda memiliki masalah, silakan hubungi salah satu admin kami yang online:
    mi_anokhi Kirim pesan oyr79 Kirim pesan varry Kirim pesan