Pada tahun 1999, John Crossan mengatakan "Adalah suatu kekeliruan jika mengatakan Kekristenan adalah turunan dari Yudaisme modern. Lebih baik mengatakan bahwa gagasan yang berkembang pada akhir periode Bait YHWH Kedua telah memunculkan dua agama: Kekristenan dan Yudaisme rabbinik, keduanya sama-sama mengklaim sebagai penerus agama asli. Keduanya tidak bisa dikatakan sebagai ibu dan anak; mereka adalah saudara. Sama seperti Kain dan Habel."
Jadi, apa yang disebut dengan "Yudeo-Kristen" (Judeo-Christian atau Judeo-Christianity)?
Istilah ini, menurut Kamus Bahasa Inggris Oxford, baru digunakan pada tahun 1899 dan 1910 ketika terjadi diskusi mengenai pentingnya memahami Kekristenan sebagai agama yang lahir atau berangkat dari Yudaisme. Gagasan Yudeo-Kristen juga digunakan dalam upaya melawan sikap-sikap anti-Semit pasca genosida yang dilakukan Hitler terhadap warga Yahudi.
Dalam dunia teologi, Yudeo-Kristen digunakan untuk menyebutkan kekristenan yang tidak ingin kehilangan tradisi mula-mula pada zaman rasuli. Bagaimana pun kekristenan tidak bisa dilepaskan dari Yudaisme, sebab ia mewarisi kitab suci yang sama, doktrin-doktrin fundamental yang sama (seperti monoteisme), kepercayaan kepada Mesias, bentuk ibadah dan sistim keimamatan, serta banyak lagi.
Gereja Ortodoks, Katolik, dan gereja-gereja mainstream (arus utama) sebetulnya masih memelihara tradisi-tradisi Yudaisme. Tradisi kantilasi ayat-ayat alkitab, penggunaan liturgi berbalasan, penggunaan mazmur sebagai nyanyian, simbol-simbol, baptisan, perjamuan roti dan anggur, penggunaan jubah bagi imam, hingga penetapan hari raya (khususnya Paskah dan Pentakosta) tidak lepas dari pengaruh Yudaisme.
Sejumlah perayaan gerejawi justru merupakan bentuk lain dari perayaan Ibrani, misalnya tradisi "pengucapan syukur" di beberapa gereja mainstream, sebetulnya adalah bentuk lain dari Sukkoth dalam tradisi Ibrani.
Kehadiran gerakan fundamentalisme di Amerika Serikat di satu sisi berdampak positif pada gereja, dimana gereja semakin menerima perubahan-perubahan modern dan semakin bebas dalam menafsirkan alkitab tanpa kuatir akan terlepas dari kemurnian imannya. Meskipun fakta berbicara lain (tidak sedikit tafsir alkitab fundamentalis yang tidak jelas asal-usulnya dalam tradisi gereja).
Di sisi lain, fundamentalisme membuat gereja kehilangan tradisi mula-mula. Bahkan, liturgi ibadah dirancang menjadi sarana pemuas spiritual, bukan lagi sarana menyampaikan pesan teologi dan Firman TUHAN, sebagaimana dipahami dalam Yudaisme dan gereja-gereja tradisional (Ortodoks, Katolik, dan mainstream). Dengan kata lain, fundamentalisme telah menyulap gereja menjadi "ruang konser spiritual."
Di era sekarang, Yudeo-Kristen menjadi alternatif bagi gereja jika ia tidak ingin kehilangan corak mula-mulanya, sebab "tradisi" adalah kekuatan sejarah. Ia adalah saksi setia atas apa yang terjadi pada masa lalu. Ia juga sekaligus merupakan kekuatan yang dapat mempertemukan, menyatukan, dan mengokohkan. Belajar dari tradisi berarti belajar dari guru yang tidak pernah mati [oyr79].
ke atas