Septuaginta (LXX) memberi nama Arithmoi, yang artinya “angka-angka” atau “nomor-nomor.” Nama yang sama digunakan oleh Vulgata, Numeri, yang kemudian menjadi nama yang populer dalam berbagai terjemahan lain, termasuk terjemahan Inggris (Numbers) dan Indonesia (Bilangan).
Penamaan ini berangkat dari upaya para Rabbi Yahudi untuk memberi nama kitab-kitab Tora berdasarkan tema, tidak lagi berdasarkan kata pertama atau salah satu kata dari ayat pertama. Nama Arithmoi (Bilangan) diberikan karena keempat pasal pertama dari kitab ini berbicara tentang angka-angka yang merupakan hasil sensus.
Nama lain yang juga dikenal di antara orang Yahudi adalah Sefer Pikkudim (Kitab Kumpulan atau Kitab Survei). Origenes, menyebut kitab ini dengan nama Kodim, yang juga berarti “kumpulan” atau “survei.”
Karena hanya berangkat dari empat pasal pertama, banyak penafsir Yahudi tidak begitu setuju dengan pemberian nama tersebut. Menurut mereka, kitab ini tidak semata berisi tentang data survei, tetapi di dalamnya terkandung begitu banyak kumpulan cerita yang cukup kompleks: narasi historis, teks hukum, naskah ritual, dan tradisi masyarakat.
Penulis dan Waktu Penulisan
Di kalangan Yahudi, kitab ini diyakini sebagai hasil karya Musa. Namun, para peneliti modern menduga bahwa kitab ini terdiri dari tiga sumber: P, Y, dan E, dimana sumber P mendominasi sebagian besar isi kitab ini. Pasal 22-24 agak sulit untuk diterima sebagai salah satu dari ketiga sumber tersebut. Karena itu, sebagian penafsir menduga bahwa ketiga pasal tersebut berasal dari sumber lain yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan ketiga sumber itu.
Mengenai waktu penulisan, N.H. Ridderbos mengungkapkan bahwa kita bisa saja berasumsi bahwa substansi hukum yang tertuang dalam kitab ini berasal dari zaman Musa. Namun, menurutnya, kita tidak mengetahui kapan pastinya kitab ini menjadi utuh seperti yang sekarang kita baca.
Periode panjang antara Musa dengan periode pasca-pembuangan di Babel, dimana upaya pengumpulan kembali naskah-naskah Tora, kitab para nabi, dan naskah-naskah sastra Yahudi dimulai, memungkinkan terjadinya re-interpretasi terhadap naskah-naskah kuno, sehingga penyesuaian teologi pun bisa saja terjadi.
Dalam tradisi Yudaisme, hal semacam ini adalah hal yang lazim, sebab Yudaisme menganut prinsip sebagai agama keadilan sosial, bukan agama vertikal (agama yang lebih menekankan aspek ketuhanan ketimbang kemanusiaan). Artinya, Yudaisme senantiasa melakukan kontekstualisasi terhadap pemikiran mereka dengan lingkungan dimana mereka berada.
Isi
Setidaknya ada empat isi penting dalam kitab ini:
1. Kesetiaan YHWH tidak akan pernah berubah (23:19), namun ini bukan berarti bahwa IA tidak dapat merubah keputusan-NYA (bnd. 14:11 dst)
2. Penekanan pada kekudusan YHWH
3. Ketentuan-ketentuan hukum yang sangat rinci
4. Hukuman YHWH bagi Israel yang tidak setia
Pembagian
Nili S. Fox membagi kitab ini berdasarkan kriteria geografis dan motif-motif ideologis ke dalam tiga bagian besar:
1. Perkemahan terakhir di Sinai serta persiapan melanjutkan perjalanan di padang gurun (1:1-10:10)
Tema utama bagian ini terpusat pada pengaturan kemah Israel di sekitar Tabernakel dan pemeliharaan kemurnian penyembahan di dalam kemah, sebagai jaminan kehadiran YHWH
2. Perjalanan dari padang gurun dari Sinai ke Moab (10:11-22:1)
Bagian ini tersusun atas rangkaian narasi yang terjalin dalam suatu garis cerita yang diselingi dengan hukum-hukum pengudusan, ketetapan melawan pelanggaran-pelanggaran hukum tertentu, dan proses-proses penebusan
3. Perkemahan di Dataran Moab dan persiapan memasuki Kanaan (22:3-36:13)
Bagian ini bercerita tentang perkemahan umat Israel di sebelah timur Yordan, di seberang Yerikho, dimana tujuan terakhir mereka (Kanaan) sudah nampak di depan mata [oyr79].
ke atas