Naskah Septuaginta (LXX) dan Vulgata menggunakan nama genesis untuk kitab ini, dari bahasa Yunani, artinya "asal-usul, sumber, ras, atau penciptaan." Nama ini digunakan karena kitab ini dianggap berisi tentang asal-usul. Dalam naskah Septuaginta, kata genesis sebetulnya digunakan untuk menerjemahkan kata tholedoth dari Bahasa Ibrani, yang artinya "generasi, keluarga, atau sejarah." Kata tholedoth ini memang banyak dijumpai dalam mengawali beberapa bagian dari kitab Kejadian (2:4; 5:1; 6:9; 11:27; dst), apalagi, kitab ini memang banyak bercerita tentang asal-usul alam semesta, manusia, dan para pendiri bangsa Israel.
Setidaknya, secara garis besar, ada tiga asal-usul penting yang diceritakan oleh kitab ini, yaitu: asal-usul dunia (pasal 1); asal-usul bangsa-bangsa (pasal 2-11); dan asal-usul Israel (pasal 12-50).
Lebih jauh, penulis atau mungkin redaktur terakhir dari kitab ini telah menyusun keseluruhan material dalam kitab ini, sehingga setiap memasuki babak cerita yang baru, selalu diawali dengan frase elle tholedoth "inilah (keluarga) sejarah/riwayat dari..." atau dalam teks Indonesia diterjemahkan "demikianlah riwayat..."
Ada sepuluh bagian dalam kitab ini yang menggunakan frase elle tholedoth sebagai pembuka (sebelas jika pengulangan dalam 36:1, 9 dihitung terpisah), dimana 1:1-2:3 dianggap sebagai pembukaan dari keseluruhan kitab.
Kesepuluh bagian itu, adalah:
(1) sejarah langit dan bumi (2:4-4:26);
(2) sejarah keluarga Adam (5:1-6:8);
(3) sejarah keluarga Nuh (6:9-9:29);
(4) sejarah keluarga anak-anak Nuh (10:1-11:9);
(5) sejarah keluarga Sem (11:10-26);
(6) sejarah keluarga Terah (11:27-25:11);
(7) sejarah keluarga Ismael (25:12-18);
(8) sejarah keluarga Ishak (25:19-35:29);
(9) sejarah keluarga Esau (36:1-37:1); dan
(10) sejarah keluarga Yakub (37:2-50:26).
Meskipun diawali dengan frase yang sama, terdapat perbedaan karakteristik pada masing-masing bagian, dimana bagian 1, 3, 6, 8, dan 10 bersifat naratif, sementara bagian lainnya lebih bersifat silsilah disertai sedikit yang bersifat naratif. Sementara, mulai pasal 11, bagian yang bersifat silsilah dan naratif mengalami perubahan. Karena itu, sangat jelas bahwa pasal 1-11 memiliki karakter yang berbeda dengan pasal 12 dst.
Bagian pendahuluan memiliki perspektif yang universal dimana memiliki banyak kesamaan dengan tradisi-tradisi timur dalam mengungkapkan cerita mengenai penciptaan, air bah, seni, dan bangsa-bangsa. Hanya pasal 12-50 yang benar-benar lebih bersifat eksklusif dengan karakteristik Israelnya.
Pasal 12-50 menceritakan secara ditail mengenai keberadaan Israel dan hanya sedikit menyinggung mengenai asal-usul bangsa-bangsa lain. Itupun hanya bangsa-bangsa yang memiliki kedekatan dengan Israel, seperti Moab, Ammon, dan Edom.
Hal penting lainnya yang harus digarisbawahi dari kitab Kejadian ini adalah posisinya sebagai kitab pertama dalam naskah pentateukh. Karenanya, kitab ini memberikan latar belakang kepada sejarah keluaran dari Mesir dan pemberian hukum di Sinai. Hal ini membuat Kitab Kejadian tidak berdiri sendiri, melainkan harus dilihat sebagai latar belakang yang esensial dalam memahami peristiwa-peristiwa berikutnya.
Demikian pula setiap bagian dalam kitab ini merupakan penjelasan bagi bagian lainnya. Kita tidak bisa memutuskan rantai penghubung antar bagian kitab ini sama seperti kita tidak bisa memutuskan keterkaitan kitab ini dengan kitab-kitab pentateukh lainnya. Allah yang memanggil Abraham, tidak bisa dipahami sebagai ilah lokal yang disembah oleh orang Israel, melainkan harus dipahami sebagai Allah yang telah menciptakan alam semesta ini. Allah itulah yang memilih Abraham dan Israel.
Kitab Kejadian dalam Penelitian Masa Kini
Seiring dengan kemajuan zaman dan kemajuan berpikir manusia, maka ketidakpuasan dalam nalar manusia telah mendorong sejumlah usaha untuk menggali Alkitab secara rasional. Pendekatan-pendekatan kritis terhadap teks Alkitab pun semakin berkembang sehingga pesan inti (kerugma) masing-masing kitab dapat digali dengan baik dan menghasilkan berbagai bentuk tafsiran yang kontekstual dan lebih menyapa realitas.
Salah satu bentuk pendekatan kritis yang paling spektakuler dalam penggalian Alkitab, khususnya terhadap naskah-naskah pentateukh, adalah apa yang dipublikasikan oleh J. Wellhausen (Die Komposition des Hexateuchs, 1876-1877; dan Prolegomena zur Geschichte Israels, 1878). Di dalam karya Wellhausen tersebut terdapat pandangan yang mengatakan bahwa naskah pentateukh disusun oleh empat sumber yang berbeda: J (abad ke-10/9 SM), E (abad ke-9/8 SM), D (abad ke-7 SM), dan P (abad ke-6/5 SM).
Pemberian nama J, E, D, dan P merupakan singkatan dari nama-nama sumber tersebut dalam Bahasa Jerman: Jahwist, Elohist, Deuteronomist, dan Priest.
Keempat sumber tersebut berhasil digabungkan dan menjadi naskah pentateukh yang sekarang pada sekitar abad ke-5 SM. Menurut penelitian ini, naskah Kitab Kejadian tersusun dari tiga sumber dari empat sumber penyusun pentateukh, yaitu: J (sekitar separuh naskah), E (+ 1/3), dan P (+ 1/6).
Pembedaan sumber dibuat berdasarkan lima kriteria utama:
1. Penggunaan nama Tuhan (J menggunakan YHWH, E dan P menggunakan Elohîm);
2. Perbedaan naratif mengenai cerita yang sama (misalnya peristiwa penciptaan dalam pasal 1 dan 2; peristiwa air bah, pasal 6-9; cerita para leluhur, pasal 12:10-20 dan pasal 20);
3. Perbedaan kosa kata (J "mengadakan" perjanjian; P "menetapkan" perjanjian);
4. Perbedaan gaya bahasa (J dan E berisi naratif yang hidup; P berisi pengulangan dan gemar akan istilah);
5. Perbedaan teologi (P mengatakan bahwa Allah itu jauh dan transenden; J dan E menampilkan Allah yang anthropomorfis).
Meskipun pandangan ini berkembang luas dan banyak diterima pada sekitar tahun 1878 sampai 1970, ada cukup banyak pandangan yang menolaknya berdasarkan poin-poin yang cukup beragam. Misalnya, Gunkel yang menyebutkan ada dua sumber J. Pandangannya ini mempengaruhi O. Eissfeldt (1965) dan G. Fohrer (1970), yang menyebutkan adanya sumber L atau N di samping sumber J. Sementara, G. von Rad (1934) membagi P menjadi dua, sedangkan P. Volz dan W. Rudolph menganggap E dan J merupakan satu sumber (1933). Ada juga yang mencoba melihat kitab Kejadian sebagai satu bagian yang utuh, misalnya Jacob (1934) dan Cassuto (1944).
Meski pendapat Wellhausen tetap menjadi pendapat yang paling banyak diterima, tetap saja ada perbedaan pandangan mengenai hubungan antara Kitab Kejadian dengan ketiga sumbernya. Ada tiga hipotesis yang berbeda: dokumenter, suplementer, dan fragmenter. Menurut hipotesis dokumenter, naskah-naskah sumber adalah dokumen panjang yang berhasil digabungkan berdasarkan seri-seri oleh editor. Hipotesis inilah yang digunakan oleh Wellhausen.
Hipotesis suplementer mengatakan bahwa pentateukh berkembang seperti bola salju dari satu sumber utama yang kemudian oleh para editor berikutnya dikembangkan selama berabad-abad dengan menambahkan material dari tradisi-tradisi lain atau merupakan imajinasi editor itu sendiri terhadap sumber utama tadi.
Hipotesis fragmenter merupakan hipotesis yang banyak diterima. Menurut hipotesis ini, naskah pentateukh disusun oleh sejumlah sumber pendek. Sumber-sumber ini kemudian diperkuat oleh editor atau mungkin beberapa editor untuk membentuk naskah panjang yang menjadi pentateukh seperti yang kita kenal sekarang.
Yang kini menjadi perdebatan adalah sejak kapan naskah-naskah sumber itu ditulis, khususnya, naskah Kitab Kejadian? Ada yang mengatakan bahwa naskah-naskah itu berasal dari zaman pra-Musa, ada juga yang mengatakan berasal dari zaman Musa, bahkan ada yang mengatakan dari zaman sesudah Musa. Pendapat lain yang lebih masuk akal menurut para sarjana Perjanjian Lama di Yerusalem adalah bahwa naskah-naskah itu dikembangkan dari suatu tradisi lisan. Namun, siapa yang memulai tradisi lisan itu dan kapan tradisi lisan itu mulai dituliskan? [oyr79].
ke atas