Artikel
 
Pilih Kategori:
Google

  • Biblika
  • Dari Anda
  • Eksplorasi Alkitab
  • Ensiklopedi Teologi
  • Episcopal Messages
  • Info
  • Kesehatan
  • Khotbah...
  • Midrash
  • Tajuk
  • Semua Artikel
  • Penciptaan: Hari Keenam (bag. 1)
    Kejadian 1:24-25

    Dibaca sebanyak: 683 kali | | kirim ke teman

    Oleh: Yosi Rorimpandei
    Beri nilai artikel ini: bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)

    Pada hari keenam, Elohim menciptakan mahluk hidup lain selain yang diciptakan pada hari kelima. Di dalamnya mencakup ternak, binatang melata, binatang liar, dan juga manusia. Mereka ini juga, oleh penulis kitab Kejadian, disebut “mahluk hidup” (nefesh khayya).
    baca lanjutan


    Secara struktur, kedua ayat ini hampir sama dengan ayat-ayat sebelumnya, dimana terdapat perintah (ay. 24) dan tindakan (ay. 25) Elohim.

    Teks

    Teks Kejadian 1:24-25 menurut Biblia Hebraica Suttgartensia (BHS) dan Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia (TB LAI)

    24 “wayyomer Elohim totse ha’arets nefesh khayya leminah behema waremesh wekhayetho-erets leminah wayehi-khen” (BHS) “Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.’ Dan jadilah demikian.” (TB LAI)

    25 “wayya’ash Elohim eth-khayyath ha’arets leminah we’eth-habbehema leminah we’eth kol-remesh ha’adama leminehu wayyare Elohim ki-tov” (BHS) “Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” (TB LAI)

    [1:24] “wayyomer Elohim totse ha’arets TB LAI: “Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup’”

    Harafiah: “wayyomer [dan berkata, berfirman] Elohim [TUHAN] totse [keluarkanlah; sebarkanlah] ha’arets [erets]”

    Jika diterjemahkan menurut terjemahan harafiahnya, ayat ini berbunyi “Dan Elohim berfirman, ‘Erets, keluarkanlah...’”

    Kesan yang muncul seakan-akan Elohim memerintahkan erets (bumi; tanah; daratan), yang adalah benda mati, untuk mengeluarkan mahluk-mahluk hidup. Maka, dalam pemikiran sederhana, seolah-olah penulis kitab Kejadian ini mau mengatakan bahwa “mahluk hidup berasal dari benda mati.”

    Gunkel, salah satu penafsir Perjanjian Lama, mengatakan bahwa penulis mendapat pengaruh dari paham kosmogoni kuno yang mengatakan bahwa bumilah yang melahirkan binatang. Namun, pendapat ini kurang bisa diterima, sebab jika kita memerhatikan bagaimana P menuliskan riwayat penciptaan, ada kesan yang kuat bahwa P semaksimal mungkin menghindari masuknya unsur-unsur politeis ke dalam tulisannya.

    Paham bahwa bumilah yang melahirkan binatang merupakan konsekuensi dari politeistik kuno. Sebab, dalam pemahaman politeis, mahluk hidup adalah hasil perkawinan antara langit dan bumi, dimana bumi berperan sebagai induk.

    Pemahaman seperti itu tentu saja dikenal luas di wilayah-wilayah Semit, di sekitar Israel. Namun, pemahaman itu tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap P. Bagaimana pun juga, dalam dunia politeis, tidak dikenal istilah “amar” (Firman) dalam penciptaan.

    Dunia politeis lebih menekankan unsur perkawinan dalam mitos penciptaannya. Tidak ada unsur alam yang terlepas dari perkawinan itu, entah perkawinan antar dewa ataupun antar unsur alam itu sendiri.

    Karenanya, munculnya kalimat perintah “totse ha’arets” (erets, keluarkanlah!) pada ayat ini lebih pada upaya menunjukkan peran erets di dalam kehidupan mahluk hidup. Artinya, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, ketika Elohim menciptakan erets, beserta elemen-elemennya, semuanya itu ditujukan untuk menopang kehidupan itu sendiri.

    Jadi, ketika Elohim berfirman agar erets mengeluarkan mahluk hidup (nefesh khayya), tujuannya adalah mempersiapkan erets untuk menopang keberadaan mahluk hidup itu sendiri. Dengan begitu, maka kesalingbergantungan antara mahluk hidup dan erets bisa terjadi.

    nefesh khayya leminah behema waremesh wekhayetho-erets leminah

    Harafiah: “nefesh [bernafas] khayya [hidup] leminah [menurut jenisnya] behema [binatang yang jinak] waremesh [dan binatang merayap] wekhayetho-erets [dan binatang liar] leminah [menurut jenisnya]”

    Kalimat “nefesh khayya leminah” (mahluk hidup menurut jenisnya) lebih dibatasi pada binatang. Dimana P menyebutkan tiga jenis binatang: “behema”, “remes”, dan “khayetho-erets.”

    Penyebutan urutan jenis-jenis binatang ini nampaknya tidak begitu memiliki makna teologis bagi P, sebab pada ayat 25, P menyebutkan dengan urutan yang berbeda.

    Kata “behema” berakar dari kata “b-h-m” dalam Bahasa Ibrani, yang tidak diketahui persis apa artinya. Para ahli Bahasa Ibrani menduga, kata “b-h-m” berarti “didiamkan” atau “dijinakkan.” Sehingga, kemungkinan “behema” berarti “binatang yang jinak” atau Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menerjemahkan “ternak.” Namun, dalam Perjanjian Lama, kata “behema” juga sering digunakan untuk binatang-binatang pada umumnya (band. Ul. 28:26; Ayb. 35:11; dsb).

    Kata “remes” berakar dari kata “r-m-s” yang artinya “bergerak dengan langkah yang pendek” (band. Kej. 1:21 diterjemahkan “bergerak”) atau sering juga diterjemahkan “merangkak atau merayap” (band. Kej. 1:28). Adam Clarke merujuk istilah ini pada binatang-binatang yang bergerak tanpa kaki, seperti ular dan cacing. Sementara, beberapa penafsir lainnya menafsirkan bahwa binatang-binatang berkaki tetapi dengan ukuran kecil juga termasuk “remes,” misalnya reptil dan serangga.

    Kata “khayetho-erets” berakar dari dua kata “khay” (hidup) dan “erets,” sehingga secara harafiah berarti “yang hidup di erets.” Namun, dalam Perjanjian Lama, kata “khay” juga sering digunakan untuk binatang-binatang liar (band. Mzm. 79:2), yaitu binatang-binatang yang hidupnya bebas.

    Melihat pengertian ketiga jenis binatang yang disebutkan oleh P, maka sepertinya P membagi binatang berdasarkan alam atau lingkungan mereka. “Behema” merujuk pada dunia binatang jinak, yaitu binatang-binatang yang menjadi peliharaan manusia, “remes” merujuk pada dunia binatang yang kecil, sedangkan “khayetho-erets” merujuk pada dunia binatang yang bebas atau liar. Semua jenis itu lebih spesifik ditujukan pada binatang-binatang yang hidup di darat, yaitu di luar apa yang sudah diciptakan pada hari kelima.

    P kemudian menutup sekali lagi dengan kata “leminah” (menurut jenisnya). Terjemahan LAI mengenakan kata “leminah” ini pada “khayetho-erets,” sehingga LAI menerjemahkan “segala jenis binatang liar.” Namun, sebetulnya kata “leminah” merujuk pada ketiga jenis yang ada. Artinya, masing-masing jenis yang sudah disebutkan sebelumnya, masih terbagi lagi ke dalam jenis-jenis yang lebih kecil (band. ay. 25).

    wayehi-khen

    Harafiah: “wayehi [dan begitulah; dan demikianlah] khen [jadinya; adanya]”

    Kalimat simpel ini menunjukkan otoritas amar Elohim (Firman TUHAN) atas segala ciptaan-NYA. Perintah-NYA, yang ditunjukkan dengan kata “totse” (sebagaimana sudah dijelaskan di atas), seketika itu juga terjadi. Tidak ada ide atau gagasan TUHAN yang tidak terjadi.

    Tapi, sekali lagi penting untuk ditekankan bahwa penciptaan tak sekedar proses abrakadabra, dimana segala sesuatu seakan-akan diciptakan dengan ilusi ala Harry Potter. Dalam pemikiran Yudaisme, penciptaan adalah proses “berpikir—bertindak—evaluasi” (lihat penjelasan-penjelasan Eksplorasi Alkitab sebelumnya mengenai penciptaan).

    Karenanya, P tidak berhenti pada “wayehi-khen.” Pada ayat 25 ia melanjutkan narasinya:

    [1:25] “wayya’ash Elohim

    Harafiah: “wayya’ash [dan membuat, menjadikan] Elohim [TUHAN]”

    Kata “wayya’ash” dari kata “’asa” memiliki pengertian yang luas, dimana di dalamnya ada proses aktif yang dilakukan oleh subyek, dalam hal ini Elohim, sehingga kata “’asa” juga sering diartikan “mengerjakan, melakukan, atau membuat.”

    eth-khayyath ha’arets leminah we’eth-habbehema leminah we’eth kol-remesh ha’adama leminehu

    Harafiah: “eth-khayyath ha’arets [binatang liar] leminah [menurut jenisnya] we’eth-habbehema [dan binatang jinak] leminah [menurut jenisnya] we’eth kol-remesh [dan semua binatang merayap] ha’adama [permukaan; tanah] leminehu [menurut jenisnya]”

    Pada bagian ini, P memperjelas penggunaan kata “leminah” pada ayat 24, dimana “leminah” merujuk pada setiap jenis binatang yang ada.

    wayyare Elohim ki-tov

    Harafiah: “wayyare [dan melihat, mengamati, mengevaluasi] Elohim [TUHAN) ki-tov [bahwa baik, bagus, indah]”

    Lihat pembahasan pada Eksplorasi Alkitab sebelumnya.

    Kavod Lekha YHWH Elohenu! Kavod Lekha! [oyr79].
    ke atas
    Masukkan Username/Email dan Password Anda
    untuk login ke situs ini

    Username/Email:

    Password:

    Daftar | Lupa password

    Shalom 38.107.191.101!

    Jika Anda merasa bahwa artikel ini penting untuk dibagikan ke teman Anda, silakan kirim ke teman Anda

    Atau beri nilai artikel ini:
    bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)
    Kategori Artikel: Eksplorasi Alkitab
    Dimasukkan pada: 24 Okt 2007 oleh: oyr79
    Terakhir dimodifikasi pada: 07 Nov 2007

    Tanggapan Pembaca:

    Kirim Tanggapan

    Belum ada tanggapan...

    SILAKAN LOGIN UNTUK BISA MEMBERIKAN KOMENTAR


    << sebelumnya | berikutnya >>
    total: 0 data

     
    LOGIN: Username/Email: Password:
    Jika Anda memiliki masalah, silakan hubungi salah satu admin kami yang online:
    mi_anokhi Kirim pesan oyr79 Kirim pesan varry Kirim pesan