Namun, tentu saja perlu ada penjelasan mengapa di dua tempat dimana manusia tidak bisa hidup ternyata ada mahluk hidup lain, misalnya burung-burung dan ikan-ikan.
Masyarakat pagan di Mesopotamia meyakini bahwa mahluk-mahluk laut adalah dewa, apalagi mahluk-mahluk berukuran besar. Demikian juga dengan mahluk-mahluk yang terbang di langit. Keyakinan ini muncul tentu saja karena mahluk-mahluk itu memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia, yaitu bisa hidup di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau manusia.
Kita perlu melihat dan memahami hal ini sebagai pemahaman masyarakat primitif pada zaman dahulu. Mereka belum mengenal pesawat dan kapal selam. Karenanya, mereka menganggap mustahil untuk mencapai langit dan kedalaman lautan.
Untuk itulah, mari kita coba pahami makna teologisnya.
Teks
20 wayyomer Elohim yishretsu hammayim sherets nefesh khayya we’uf ye’ofef ‘al-ha’arets ‘al-pene reqi’a hashshamayim
21 wayyovra Elohim eth-hattanninim haggedolim we’eth kol-nefesh hakhayya haromeseth asher sharetsu hammayim leminehem we’eth kol-‘of kanaf leminehu wayyare Elohim ki-tov
22 wayevarekh ‘otham Elohim lemor peru urevu umil’u eth-hammim bayyamim weha’of yirev ba’arets
23 wayehi-‘erev wayehi-voqer yom hamishi
[1:20] “wayyomer Elohim yishretsu hammayim sherets nefesh khayya”
TB LAI: “Berfirmanlah Allah: ‘Hendaklah dalam air berkeriapan mahluk yang hidup.’”
Harafiah: “wayyomer [dan berkata, berfirman] Elohim [TUHAN] yishretsu [berkeriaplah; berkawananlah; berlimpah-limpahlah] hammayim [air; laut] sherets [mahluk yang bergerak] nefesh [bernafas] khayya [hidup]”
Terjemahan LAI merupakan terjemahan bebas karena memang cukup sulit untuk menerjemahkan secara harafiah. Akibatnya, permainan kata yang indah pada naskah asli pun hilang, jika kita hanya membaca terjemahan Indonesianya saja.
Perhatikan penggunaan kata perintah yishretsu dan kata benda sherets. Kedua kata ini berakar dari kata yang sama, yaitu sharats, yang artinya gerakan kawanan binatang dalam jumlah besar atau bisa dikatakan bergerombolan.
Ketika menjadi kata perintah, LAI menerjemahkannya “hendaklah... berkeriapan.” Sedangkan, ketika menjadi kata benda, LAI menerjemahkan “mahluk.” Terjemahan ini tidak salah, tetapi kurang mewakili ekspresi penulis Kitab Kejadian.
Terjemahan American Standard Version (ASV) dan Jewish Publication Society (JPS) sangat bagus. Keduanya menerjemahkan “swarm with swarms.” Atau bisa juga dibandingkan terjemahan Jay P. Green, Sr, “swarm with the swarmers.” Permainan kata semacam ini sangat kaya dalam Perjanjian Lama, bahkan pada peristiwa penciptaan sendiri, permainan kata ini sudah banyak ditemui. Sayangnya, Bahasa Indonesia tidak cukup mampu untuk mengakomodasinya.
Kesulitan kedua adalah ketika harus menerjemahkan kombinasi sherets nefesh khayya. LAI terpaksa menyederhanakan terjemahan ini menjadi “mahluk yang hidup.” Padahal, jika diterjemahkan secara harafiah, kombinasi ketiga kata tersebut dapat diterjemahkan “mahluk yang bergerak, yang bernafas hidup” (band. ay. 21).
Kata nefesh sendiri bisa diterjemahkan “nafas” (Kej. 2:7, dsb) bisa juga “jiwa” (Mzm. 25:20, dsb) atau “nyawa” (Kej. 19:20, dsb). Bahkan, dalam beberapa bagian, LAI menerjemahkan kata nefesh dengan kata “hati” (Kej. 34:8, dsb) dan “diri” (Ams. 6:23, dsb).
“we’uf ye’ofef ‘al-ha’arets ‘al-pene reqi’a hashshamayim”
TB LAI: “dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala”
Harafiah: “we’uf [dan binatang-binatang bersayap yang bisa terbang] ye’ofef [terbanglah] ‘al-ha’arets [di atas erets] ‘al-pene [melintasi] reqi’a [bentangan] hashshamayim [langit; surga]”
Lagi-lagi ada permainan kata yang sama dengan bagian sebelumnya, yaitu penggunaan kata benda ‘of (LAI: “burung”) dan kata perintah ye’ofef (LAI: “hendaklah... beterbangan”). Kedua kata ini berakar dari kata yang sama, yaitu kata kerja ‘uf (menutup dengan sayap; terbang). Terjemahan yang umum terhadap kata ini adalah “terbang.”
Ketika menjadi kata benda ‘of, LAI menerjemahkannya “burung.” Padahal kata ‘of tidak secara spesifik berarti “burung.” Kata ‘of digunakan untuk segala binatang bersayap yang bisa terbang, termasuk serangga yang bisa terbang, seperti lalat, nyamuk dan lebah.
Karenanya, akan lebih cocok jika ayat ini diterjemahkan, “Terbanglah segala binatang yang bersayap dan bisa terbang...” atau “Hendaklah segala binatang yang bersayap dan bisa terbang beterbangan...”
Selanjutnya, kalimat berikutnya ‘al-ha’arets ‘al-pene reqi’a hashshamayim, oleh LAI diterjemahkan “di atas bumi melintasi cakrawala.”
Kata depan ‘al- digunakan, baik untuk erets (LAI: “bumi”) maupun reqi’a (LAI: “cakrawala”). Kata ‘al- umumnya diterjemahkan “di atas.” Namun, jika dipadukan dengan kata pene (depan; wajah; muka), seperti pada frase ‘al-pene reqi’a, maka bisa berarti “di depan.”
Tentu saja kita tidak mungkin menerjemahkan “di depan langit.” Mungkin karena itulah LAI menerjemahkannya “melintasi cakrawala” atau lebih tepat “melintasi bentangan langit,” dimana kata reqi’a saya terjemahkan “bentangan” (lihat Eksplorasi Alkitab sebelumnya).
[1:21] “wayyovra Elohim eth-hattanninim haggedolim”
TB LAI: “maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar”
Harafiah: “wayyovra [dan menciptakan] Elohim [TUHAN] eth-hattanninim [binatang-binatang berukuran panjang] haggedolim [yang besar-besar]”
Kata wayyovra berakar dari kata bara (baca penjelasannya dalam Eksplorasi Alkitab sebelumnya).
Frase hattanninim haggedolim diterjemahkan “binatang-binatang laut yang besar” oleh LAI. Kata tanninim (tannin) sendiri merupakan kata yang tidak begitu lazim dalam Perjanjian Lama. Kata ini hanya digunakan sebanyak 27 kali dalam keseluruhan Perjanjian Lama dan sering diterjemahkan “ular naga” (Mzm. 74:13; Yes. 27:1; Ayb. 7:12; dsb). Secara harafiah, kata tannin berarti “binatang yang berukuran panjang.” Di laut, ikan paus termasuk tannin.
Kata gedolim (gadol) “besar” digunakan untuk mempertegas kata hattanninim.
we’eth kol-nefesh hakhayya haromeseth asher sharetsu hammayim leminehem
TB LAI: “dan segala jenis mahluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air”
Harafiah: “we’eth [dan] kol-nefesh [semua bernafas] hakhayya [hidup] haromeseth [mahluk yang bergerak] asher [yang] sharetsu [berkeriapan; berkawanan; bergerombolan] hammayim [air; laut] leminehem (menurut jenis mereka]”
Nefesh hakhayya haromeseth memiliki pengertian yang sama dengan sherets nefesh khayya pada ay. 20, yaitu segala mahluk yang bergerak, yang bernafas hidup. Terjemahan LAI “mahluk hidup yang bergerak” lebih tepat dibanding terjemahan yang digunakan pada ayat 20 “mahluk yang hidup.”
Pada ayat ini diberi tambahan leminehem “menurut jenis mereka” untuk menegaskan bahwa Elohim tidak hanya menciptakan satu jenis mahluk hidup di dalam air.
we’eth kol-‘of kanaf leminehu
TB LAI: “dan segala jenis burung yang bersayap”
Harafiah: “we’eth [dan] kol-‘of [semua binatang bersayap yang bisa terbang] kanaf [bersayap] leminehu [menurut jenisnya]”
Kata kanaf secara harafiah berarti “tepi,” “ujung” atau “batas.” Dalam Yes. 24:16 diterjemahkan “ujung” oleh LAI. Sedangkan dalam Yeh. 7:2 diterjemahkan “penjuru.” Namun, jika dikenakan kepada burung, kata ini sering diterjemahkan “sayap” (Kel. 19:4; dsb). Jika digunakan pada jubah manusia, sering diterjemahkan “punca kain” (Ul. 22:30; dsb).
Pada bagian ini juga dipertegas dengan penggunaan kata leminehu (menurut jenisnya), untuk menerangkan bahwa Elohim tidak hanya menciptakan satu jenis mahluk hidup yang bersayap dan bisa terbang.
wayyare Elohim ki-tov
TB LAI: “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”
Harafiah: “wayyare [dan melihat, mengamati, mengevaluasi] Elohim [TUHAN) ki-tov [bahwa baik, bagus, indah]”
Lihat pembahasan pada Eksplorasi Alkitab sebelumnya.
[1:22] “wayevarekh ‘otham Elohim”
TB LAI: “Lalu Allah memberkati semuanya itu”
Harafiah: “wayevarekh [dan memberkati] ‘otham [mereka] Elohim [TUHAN]”
Kata yevarekh (memberkati), pertama kali digunakan pada ayat ini. Kata ini berakar dari kata barakh, yang secara harafiah berarti “berlutut.” Bandingkan Kej. 24:11, “disuruhnyalah unta itu berhenti...” Kata “berhenti” menggunakan kata barakh. Dalam King James Version (KJV) diterjemahkan to kneel down, sebab jika unta berhenti dan penunggangnya hendak turun, maka unta itu harus berlutut.
Oleh LAI, kata ini sering juga diterjemahkan “terpujilah” (Rut 4:14; Mzm. 89:53; dsb) terutama jika ditujukan kepada TUHAN. Dalam bagian-bagian lain, jika kata ini digunakan antar manusia, maka kata ini sering diterjemahkan “salam” (1Sam. 13:10; 25:14; 2Raj. 4:29; dsb).
Namun, yang penting juga untuk diketahui bahwa kata ini juga bisa berarti “kutuk” (band. Ayb. 2:5, 9; 1Raj. 21:10, 13; dsb). Meskipun pada umumnya, kata ini diterjemahkan “berkat.”
Pada ayat ini tentu saja kata ini mengandung arti “berkat.” TUHAN memberkati ‘otham (mereka). Kata ganti ‘otham di sini merujuk kepada seluruh ciptaan pada hari kelima, yaitu binatang-binatang di dalam air dan binatang-binatang bersayap yang bisa terbang.
Hal ini tentunya menimbulkan pertanyaan, mengapa TUHAN hanya memberkati ciptaan pada hari kelima? Claus Westermann menjelaskan bahwa berkat diucapkan TUHAN untuk membedakan penciptaan mahluk hidup dengan elemen-elemen alam. Dalam hal ini, orang-orang zaman dulu tidak melihat tumbuh-tumbuhan sebagai mahluk hidup, melainkan hanya sebagai makanan bagi mahluk hidup.
Bagaimana dengan binatang-binatang yang diciptakan pada ayat 24-25? Ini akan dibahas pada edisi mendatang.
lemor peru urevu umil’u eth-hammim bayyamim weha’of yirev ba’arets
TB LAI: “firman-Nya: ‘Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak”
Harafiah: “lemor [berkata] peru [berbuahlah; berkembang biaklah] urevu [dan bertambah banyaklah] umil’u [dan penuhilah; dan isilah] eth-hammim [air] bayyamim [di lautan] weha’of [dan binatang-binatang bersayap yang bisa terbang] yirev (bertambah banyak] ba’arets [di erets]”
Kata lemor (berkata) menunjukkan bahwa isi perkataan merupakan bagian dari tindakan sebelumnya, yaitu yevarekh (memberkati). Artinya, isi perkataan ini merupakan esensi dari berkat yang TUHAN berikan.
Itulah sebabnya berkat hanya diberikan kepada mereka yang diberi nefesh khayya (nafas hidup), sebab esensi berkat yang dimaksud pada ayat ini adalah “reproduksi” atau bagaimana berkembang biak.
Penulis Kitab Kejadian belum mengetahui bahwa pada tumbuhan juga terjadi proses reproduksi. Sejauh yang ia ketahui, tumbuhan itu tumbuh dari dalam tanah atau melalui biji-bijian yang ditanam oleh manusia.
Ada tiga tahapan yang dijelaskan oleh penulis Kitab Kejadian dalam ayat ini: peru (berkembang biaklah), revu (bertambah banyaklah), dan mil’u (penuhilah). Jika kita bandingkan dengan berkat yang diberikan kepada manusia (ayat 28), maka hanya ada dua kelebihan berkat yang dimiliki manusia, yaitu khivshuha (taklukkanlah) dan redu (berkuasalah). Kita akan membahas hal ini pada Eksplorasi Alkitab berikutnya.
[1:23] “wayehi-‘erev wayehi-voqer yom hamishi”
TB LAI: “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima”
Harafiah: “wayehi-‘erev [dan jadilah petang] wayehi-voqer [dan jadilah pagi] yom [hari] hamishi [kelima]”
Lihat pembahasan pada Eksplorasi Alkitab sebelumnya.
Kavod Lekha YHWH Elohenu! Kavod Lekha! [oyr79].
ke atas