Teori ini tentu saja belum dikenal oleh penulis Kitab Kejadian. Lagipula, ia tidak sedang berbicara tentang proses itu. Pada kenyataannya, penulis Kitab Kejadian hanya mengetahui bahwa benda-benda penerang itu diletakkan di cakrawala sekedar sebagai petunjuk waktu (siang-malam, hari, musim, dsb).
Tetapi, marilah kita menggali makna penciptaan benda-benda penerang itu berdasarkan maksud teologis sang penulis.
Teks
14 wayyomer Elohim yehi me’oroth birqi’a hashshamayim lehavdil ben hayyom uven hallayla wehayu le’othoth ulemo’adim uleyamim weshanim
15 wehayu lim’oroth birqi’a hashshamayim leha’ir ‘al-ha’arets wayehi-khen
16 wayya’as Elohim eth-shene hamme’oroth haggedolim eth-hamma’or haggadol lememsheleth hayyom we’eth-hamma’or haqqatan lememsheleth hallayla we’eth hakkokhavim
17 wayyitten otham Elohim birqi’a hashshamayim leha’ir ‘al-ha’arets
18 welimshol bayyom uvallayla ulahavdil ben ha’or uven hakhoshekh wayyare Elohim ki-tov
19 wayehi-‘erev wayehi-voqer yom revi’i
[1:14] “wayyomer Elohim yehi me’oroth birqi’a hashshamayim”
TB LAI: “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala.’”
Harafiah: “wayyomer (dan berkata, berfirman) Elohim (TUHAN) yehi (jadilah) me’oroth (benda-benda penerang) birqi’a (di bentangan) hashshamayim (langit; surga)”
Tidak ada yang begitu esensial dalam terjemahan LAI yang perlu dikritisi. Namun, nampaknya LAI mengalami kesulitan dalam menerjemahkan frase birqi’a hashshamayim, sehingga frase ini hanya diterjemahkan “pada cakrawala.”
Kata birqi’a berasal dari dua kata, yaitu be dan raqiya. Kata be merupakan kata depan yang memiliki banyak arti. Kata ini bisa diterjemahkan “di atas, di bawah, di antara, di dalam, dengan, pada, dsb.” Sedangkan kata raqiya muncul pertama kali pada ayat 6.
LAI menerjemahkan kata ini dengan kata “cakrawala” untuk membedakan dengan kata shamayim, yang mereka terjemahkan “langit.” Kata raqiya berasal dari kata raqa, yang artinya “membentangkan” seperti membentangkan kain (band. Yes. 42:5; 44:24). Begitulah orang-orang pada zaman dahulu memandang langit. Menurut mereka, langit adalah bentangan permadani yang sangat luas.
Kata birqi’a diikuti dengan kata hashshamayim. Kata ini tidak pernah diterjemahkan secara seragam oleh LAI. Pada bagian lain diterjemahkan “langit,” pada bagian lain lagi diterjemahkan “surga.”
Masyarakat kuno memang memiliki keyakinan bahwa langit adalah surga. Dalam mitos-mitos kuno, kita sering mendengar istilah “Kerajaan Langit,” “Tahta Langit” atau “Istana Langit” yang digambarkan sebagai tempat para dewa bersemayam. Mitos ini berlaku universal, dan kita dapat menemukannya dalam mitos-mitos Mesopotamia, Mesir, Yunani, Cina, bahkan di antara masyarakat Indonesia.
Jadi, frase birqi’a hashshamayim dapat kita terjemahkan “di bentangan langit” atau “pada bentangan langit.” Sekiranya kita ingin menyesuaikan dengan kenyataan ilmu alam, yang mana matahari, bulan dan bintang-bintang berada di ruang angkasa, maka kita dapat menerjemahkannya “di atas langit.” Namun, yang harus kita pahami bahwa penulis Kitab Kejadian belum memahami seperti yang kita pahami itu.
Kenapa penting bagi penulis Kitab Kejadian untuk menuliskan penciptaan benda-benda penerang?
Sebagaimana pembahasan-pembahasan dalam Eksplorasi Alkitab sebelumnya, bangsa Israel adalah bangsa kecil yang hidup pada masa politeisme (penyembahan dewa-dewa). Perjalanan sejarah mereka adalah perjalanan sejarah yang sangat berat untuk tetap meyakini monoteisme (satu TUHAN). Mereka bersentuhan dengan budaya-budaya raksasa yang sangat politeis, misalnya Mesopotamia, Kanaan, Mesir, Babel, Yunani, dan berbagai peradaban besar lainnya.
Ketika Kitab Kejadian ditulis, latar belakang kehidupan itu masih sangat kental mempengaruhi kehidupan mereka. Karenanya, penting bagi penulis Kitab Kejadian untuk menuliskan akar keimanan mereka akan TUHAN Yang Esa.
Jadi, bagian pertama dari ayat ini, wayyomer Elohim yehi me’oroth birqi’a hashshamayim, hendak menegaskan bahwa benda-benda penerang (khususnya matahari dan bulan) adalah ciptaan Elohim. Dengan demikian, benda-benda penerang itu tidak layak untuk dijadikan obyek sembahan. Yang layak disembah adalah Sang Pencipta benda-benda itu.
“lehavdil ben hayyom uven hallayla”
TB LAI: “untuk memisahkan siang dari malam.”
Harafiah: “lehavdil (untuk memisahkan) ben (antara) hayyom (hari; siang) uven (dan antara) hallayla (malam)”
Ini adalah tugas pertama dari benda-benda penerang itu, memisahkan siang dari malam. Pada ayat 16 dan 18, tugas ini mendapat beberapa kali penegasan, sekalipun pada ayat 18 terdapat pengulangan dari ayat 4. Intinya bahwa Elohim tidak menghendaki adanya penyatuan antara terang (‘or) dan gelap (khosekh), baik dalam pengertian sebenarnya maupun dalam pengertian maknawi antara kebaikan dan kejahatan.
Terang dan gelap hanya dapat dipisahkan oleh “benda-benda penerang” (me’oroth). Itulah yang berasal dari Elohim. Sebab, meskipun gelap dan kegelapan adalah bagian dari penciptaan, tetapi Elohim tidak secara khusus menciptakan benda-benda pembawa kegelapan.
Untuk itu, pentinglah kiranya kita memahami bahwa dalam teologi penulis Kitab Kejadian, Elohim adalah sumber terang dan terang itu sendiri. Dengan memiliki terang, maka manusia dapat memisahkan diri dari kegelapan.
“wehayu le’othoth ulemo’adim uleyamim weshanim”
TB LAI: “Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun”
Harafiah: “wehayu (dan menjadi) le’othoth (untuk menandai) ulemo’adim (dan untuk kesepakatan-kesepakatan) uleyamim (dan untuk hari-hari; dan untuk siang) weshanim (dan tahun-tahun)”
LAI menambahkan kata “biarlah” pada terjemahannya, mungkin untuk memperindah bahasa. Tapi, kata ini tidak ada dalam naskah Ibraninya.
Bagian ini menerangkan tugas kedua dari benda-benda penerang itu, yaitu sebagai petunjuk waktu. Sepertinya penulis Kitab Kejadian lebih menekankan pada waktu-waktu liturgis. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan kata ulemo’adim.
King James Version (KJV) menerjemahkan kata mo’adim dengan kata “seasons” (musim). Jika yang dimaksud adalah musim semi, musim gugur, dsb, maka agaknya KJV telah keliru memahami ayat ini. Terjemahan LAI “masa-masa yang tetap” juga tidak begitu mencerminkan makna teologis penulis.
Kata mo’adim berakar dari kata mo’ed yang berarti “kesepakatan” atau “perjanjian.” Kata ini lebih sering diterjemahkan “pertemuan,” khususnya pertemuan yang berkaitan dengan ibadah (band. Kel. 27:21; Im. 1:1; Bil. 2:1; Ul. 31:14; dst). Karena itu, dua kata yang mengikutinya, yaitu kata yamim (hari-hari) dan shanim (tahun-tahun) hendaknya dipahami dalam kerangka ibadah atau hari-hari raya.
Secara teologis, pesan yang hendak disampaikan penulis adalah bagaimana Elohim telah menetapkan waktu-waktu khusus bagi manusia untuk beribadah. Pembagian waktu memang merupakan hasil kesepakatan manusia. Kita sama-sama mengetahui bahwa sistim penanggalan Ibrani adalah warisan dari sistim penanggalan Mesopotamia kuno. Bahkan, nama-nama bulan yang digunakan adalah nama-nama bulan Mesopotamia.
Namun, penyusunan sistim penanggalan itu tidak lepas dari hasil perhitungan terhadap peredaran bulan dan matahari jika dilihat dari bumi (pada waktu itu manusia belum mengetahui teori heliosentris, bahwa matahari adalah pusat tata surya dan bumi mengitari matahari).
Dengan kata lain, penulis Kitab Kejadian mau mengatakan bahwa meskipun sistim penanggalan adalah bagian dari upaya manusia, tetapi upaya itu tidak mungkin terlaksana jika Elohim tidak menciptakan benda-benda angkasa sebagai petunjuknya. Jadi, dengan adanya sistim penanggalan itu, maka menjadi kewajiban manusia untuk dapat mengatur waktunya sebaik mungkin serta menyediakan waktu-waktu khusus untuk TUHAN.
Oleh karena ayat ini masih diyakini berasal dari sumber P (priest), maka nuansa simbol-simbol tradisi keagamaan menjadi hal yang sangat penting untuk ditegaskan di samping penegasan akan kredo monoteisme.
[1:15] “wehayu lim’oroth birqi’a hashshamayim”
TB LAI: “dan sebagai penerang pada cakrawala”
Harafiah: “wehayu (dan menjadi) lim’oroth (untuk menerangi) birqi’a (di bentangan) hashshamayim (langit; surga)”
Setelah fungsi “untuk memisahkan” (lehavdil) dan “untuk menandai” (le’othoth) pada ayat 14, kini pada ayat 15 diterangkan fungsi ketiga dari benda-benda penerang, yaitu “untuk menerangi” (lim’oroth). Fungsi ini dipertegas kembali pada ayat 17.
“leha’ir ‘al-ha’arets wayehi-khen”
TB LAI: “biarlah benda-benda itu menerangi bumi”
Harafiah: “leha’ir (untuk menerangi) ‘al-ha’arets (di atas erets) wayehi-khen (dan jadilah demikian)”
Kata leha’ir memiliki akar yang sama dengan lim’oroth, yaitu berasal dari kata or (menerangi). Kata ini mengandung makna positif dalam filosofi Ibrani. Karena itu, kehadiran TUHAN selalu dinyatakan dengan “terang” (or). Misalnya ketika Musa bertemu TUHAN, disimbolkan dengan “nyala api.” Begitu juga ketika orang-orang Israel dalam perjalanan dari Mesir ke Tanah Kanaan, mereka dipimpin oleh “tiang api” pada waktu malam. Penulis Injil Yohanes pun sering menggunakan kata “terang” (or), baik kepada TUHAN maupun kepada Yesus.
Intinya, keberadaan benda-benda penerang adalah untuk maksud baik bagi erets (bumi; tanah; negeri). Meski begitu, mereka bukan untuk disembah.
[1:16] “wayya’as Elohim eth-shene hamme’oroth haggedolim”
TB LAI: “maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu”
Harafiah: “wayya’as (dan membuat) Elohim (TUHAN) eth-shene (dua) hamme’oroth (benda-benda penerang) haggedolim (yang besar)”
Setelah Elohim “berfirman” (amar) pada ayat 14, kini Elohim “bekerja” (‘asa). Artinya, penciptaan bukanlah suatu tindakan pasif, melainkan aktif, bahkan kreatif (baca kembali penjelasan dalam Eksplorasi Alkitab sebelumnya).
“eth-hamma’or haggadol lememsheleth hayyom we’eth-hamma’or haqqatan lememsheleth hallayla”
TB LAI: “yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam”
Harafiah: “eth-hamma’or (benda penerang) haggadol (lebih besar) lememsheleth (menguasai; mengatur) hayyom (siang) we’eth-hamma’or (dan benda penerang) haqqatan (lebih kecil) lememsheleth (menguasai; mengatur) hallayla (malam)”
Penggunaan kata lememsheleth (menguasai; mengatur) pada ayat ini sering dianggap sebagai bias atau pengaruh dari sistim kepercayaan politeis, dimana matahari dan bulan dianggap sebagai dewa yang “menguasai.”
Tetapi ada perbedaan antara cerita penciptaan versi Enuma Elish Babilonia dengan yang tertuang dalam Kitab Kejadian. Menurut Enuma Elish, segala sesuatu yang tercipta adalah dewa, sedangkan menurut Kejadian, segala sesuatu yang tercipta tidak lebih dari ciptaan.
Karena itu, fungsi “menguasai” di sini memiliki makna yang berbeda dengan fungsi “menguasai” dalam Enuma Elish. “Menguasai” dalam Enuma Elish adalah “menguasai” manusia dan segala ciptaan lain di bumi, sedangkan dalam Kitab Kejadian, “menguasai” lebih untuk menunjukkan keberadaan benda-benda penerang itu. Matahari (yang lebih besar) pada waktu siang, dan bulan (yang lebih kecil) pada waktu malam.
“we’eth hakkokhavim”
TB LAI: “dan menjadikan juga bintang-bintang”
Harafiah: “we’eth (dan) hakkokhavim (bintang-bintang)”
Bagian ini tidak perlu dijelaskan secara terperinci. Tetapi, bagian ini menunjukkan bagaimana pandangan penulis Kitab Kejadian tentang bintang-bintang. Ia tentu tidak mengetahui bahwa benda penerang yang lebih besar yang menguasai siang hari (matahari) sebenarnya adalah bintang yang paling dekat dengan bumi. Kalaupun dia mengetahuinya, para pembaca Kitab Kejadian pada waktu itu tentu tidak akan percaya hal itu.
[1:17] “wayyitten otham Elohim birqi’a hashshamayim”
TB LAI: “Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi”
Harafiah: “wayyitten (memberikan; menaruh) otham (mereka) Elohim (TUHAN) birqi’a (di bentangan) hashshamayim (langit; surga)”
Ayat 17 dan 18 hanyalah berupa penegasan. Ayat 17a untuk mempertegas keyakinan bahwa hanya Elohim, Yang layak disembah. Dialah yang menciptakan dan meletakkan benda-benda penerang itu di langit.
“leha’ir ‘al-ha’arets” [1:18] “welimshol bayyom uvallayla ulahavdil ben ha’or uven hakhoshekh”
TB LAI: “untuk menerangi bumi” “dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap”
Harafiah: “leha’ir (untuk menerangi) ‘al-ha’arets (di atas erets) welimshol (dan untuk menguasai) bayyom (di siang) uvallayla (dan malam) ulahavdil (dan untuk memisahkan) ben (antara) ha’or (terang) uven (dan antara) hakhoshekh (gelap; kegelapan)”
Ayat 17b-18 untuk mempertegas fungsi benda-benda penerang itu.
[1:19] “wayehi-‘erev wayehi-voqer yom revi’i”
TB LAI: “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat”
Harafiah: “wayehi-‘erev (dan jadilah petang) wayehi-voqer (dan jadilah pagi) yom (hari) revi’i (keempat)”
Kalimat ini sudah dijelaskan dalam Eksplorasi Alkitab sebelumnya.
Kavod Lekha YHWH Elohenu! Kavod Lekha! [oyr79].
ke atas