Iman: Hikmat + Pengetahuan
Dibaca sebanyak: 696 kali |     | kirim ke teman
Oleh: JRC
Istilah "iman" biasanya dikonotasikan dengan sejumlah definisi dan konsepsi
keagamaan yang sangat bernuansa 'teologis.' Sikap percaya, yakin, taat, patuh,
pasrah dan konsisten merupakan beberapa kata kunci yang sering menjelaskan makna
iman. baca lanjutan
Pengertian semacam ini disadari atau tidak membawa implikasi pada sebuah
pemahaman iman yang cenderung memisahkan antara iman dan pengetahuan, yang dalam
tradisi Ibrani sebenarnya dua hal itu menjadi satu (integral), tidak dipisahkan
satu dengan lainya.
Dalam kitab Amsal, Salomo mengungkapkan bahwa "hikmat" (khokhma)
adalah sejajar dengan "pengetahuan" (tabun). Keduanya melahirkan iman
yang bersumber dari lev (hati) dan 'orma (kecerdasan).
Hal ini menunjukkan bahwa iman haruslah integral di dalamnya "hikmat" dan "pengetahuan." Tidak bisa iman hanya bersumber dari
"hikmat" karena akan
melahirkan sikap keagamaan yang mistik. Sementara, iman yang hanya bersumber
dari "pengetahuan" akan melahirkan sikap keberagamaan yang sekuler.
Secara umum adalah lumrah jika bentuk keyakinan dan kepercayaan memerlukan
pengetahuan, bahkan harus! Sebab, kitab suci sebagai landasan iman kita hadir
melalui proses yang melibatkan kedua unsur tersebut. Demikian juga proses
perumusan dogma gereja tidak lepas dari peran "hikmat" dan "pengetahuan."
Maka, untuk mencapai kedewasaan iman, keduanya hendaklah saling melengkapi
dan menyeimbangkan.
Tak bisa lagi iman dibiarkan bermodalkan "hikmat" tanpa dilandasai sebuah "pengetahuan." Sebab, hal ini dapat menjadikan iman itu rapuh tanpa isi. Begitu
juga iman bermodalkan "pengetahuan" semata, tak bisa lagi dibiarkan menjulang
tinggi tanpa dipayungi oleh "hikmat", sebab lambat laun ia akan terjatuh pada
kehampaan dan kemiskinan sepiritual.
Dengan demikian secara sederhana bisa kita rumuskan:
Iman = Hikmat + Pengetahuan
Marilah dalam perayaan Khanukka, Natal serta memasuki Tahun Baru 2007 ini,
iman kita semakin didewasakan. Bukan lagi iman yang pincang, tetapi iman yang
dilandasi oleh "hikmat" dan "pengetahuan" untuk mencapai "mahkota" (keter)
ilahi! [JRC] ke atas
Tanggapan Pembaca:
⇒ Kirim Tanggapan oyr79 (13 Nov 2007):
 Sebetulnya perayaan
Natal pada 25 Desember
hanyalah mewarisi
perayaan yang
dilegalisasi oleh Kaisar
Konstantinus pada 336
M. Perayaan Natal,
jika ingin dirayakan
secara tepat, semestinya
mengacu pada penanggalan
atau almanak
Ibrani. Namun,
sebaiknya kita tidak
terjebak pada perbedatan
soal tanggal, lalu
kehilangan esensi
Natalnya. shem (13 Nov 2007):
 Shalom
Alaika, Saya
sepakat. Gereja/Qahal
Mesianik di Indonesia
"hampir-hampir"
kedodoran dalam hal
"Daat",
"Binah",
"Khokmah".
Pengaruh Pietisme dan
Kharismatikalisme [saya
tidak sepenuhnya menolak
fenomena ini, karena saya
pernah melewati fase ini
dan mengalami pencerahan
ketika berada di fase
ini], telah mengebiri
peranan
"khokmah",
"binah" dan
"daat" dan
mendudukan dalam posisi
yang inferior.Hasilnya?
dapat diduga,
Gereja/Qahal Mesianik di
Indonesia lebih banyak
berkutat dengan persoalan
"pujian dan
penyembahan" namun
sangat jarang memberi
ruang bagi "berpikir
kritis",
"perbedaan
pendapat",
"pengkajian teologis
yang komprehensif".
Ketika mendengar istilah
"teologi", ada
suatu prasangka sebagai
hal yang memadamkan
iman. But, tentang
natal, boleh khan beda
pendapat? silahkan
mengkaji artikel saya
dengan judul benarkah
Yahshua lahir Tgl 25
Desember? di
messianic-indonesia.c
om Leh
it
Raot S
hem << sebelumnya | berikutnya >>
total: 2 data
Kategori Artikel: Tajuk Dimasukkan pada: 01 Jan 2007 oleh: oyr79 Terakhir dimodifikasi pada: 01 Jan 2007
|