Artikel
 
Pilih Kategori:
Google

  • Biblika
  • Dari Anda
  • Eksplorasi Alkitab
  • Ensiklopedi Teologi
  • Episcopal Messages
  • Info
  • Kesehatan
  • Khotbah...
  • Midrash
  • Tajuk
  • Semua Artikel
  • Iman: Hikmat + Pengetahuan

    Dibaca sebanyak: 1312 kali | | kirim ke teman

    Oleh: JRC
    Beri nilai artikel ini: bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)

    Istilah "iman" biasanya dikonotasikan dengan sejumlah definisi dan konsepsi keagamaan yang sangat bernuansa 'teologis.' Sikap percaya, yakin, taat, patuh, pasrah dan konsisten merupakan beberapa kata kunci yang sering menjelaskan makna iman.
    baca lanjutan


    Pengertian semacam ini disadari atau tidak membawa implikasi pada sebuah pemahaman iman yang cenderung memisahkan antara iman dan pengetahuan, yang dalam tradisi Ibrani sebenarnya dua hal itu menjadi satu (integral), tidak dipisahkan satu dengan lainya.

    Dalam kitab Amsal, Salomo mengungkapkan bahwa "hikmat" (khokhma) adalah sejajar dengan "pengetahuan" (tabun). Keduanya melahirkan iman yang bersumber dari lev (hati) dan 'orma (kecerdasan).

    Hal ini menunjukkan bahwa iman haruslah integral di dalamnya "hikmat" dan "pengetahuan." Tidak bisa iman hanya bersumber dari "hikmat" karena akan melahirkan sikap keagamaan yang mistik. Sementara, iman yang hanya bersumber dari "pengetahuan" akan melahirkan sikap keberagamaan yang sekuler.

    Secara umum adalah lumrah jika bentuk keyakinan dan kepercayaan memerlukan pengetahuan, bahkan harus! Sebab, kitab suci sebagai landasan iman kita hadir melalui proses yang melibatkan kedua unsur tersebut. Demikian juga proses perumusan dogma gereja tidak lepas dari peran "hikmat" dan "pengetahuan."

    Maka, untuk mencapai kedewasaan iman, keduanya hendaklah saling melengkapi dan menyeimbangkan.

    Tak bisa lagi iman dibiarkan bermodalkan "hikmat" tanpa dilandasai sebuah "pengetahuan." Sebab, hal ini dapat menjadikan iman itu rapuh tanpa isi. Begitu juga iman bermodalkan "pengetahuan" semata, tak bisa lagi dibiarkan menjulang tinggi tanpa dipayungi oleh "hikmat", sebab lambat laun ia akan terjatuh pada kehampaan dan kemiskinan sepiritual.

    Dengan demikian secara sederhana bisa kita rumuskan:

    Iman = Hikmat + Pengetahuan

    Marilah dalam perayaan Khanukka, Natal serta memasuki Tahun Baru 2007 ini, iman kita semakin didewasakan. Bukan lagi iman yang pincang, tetapi iman yang dilandasi oleh "hikmat" dan "pengetahuan" untuk mencapai "mahkota" (keter) ilahi! [JRC]


    ke atas
    Masukkan Username/Email dan Password Anda
    untuk login ke situs ini

    Username/Email:

    Password:

    Daftar | Lupa password

    Shalom 38.107.191.100!

    Jika Anda merasa bahwa artikel ini penting untuk dibagikan ke teman Anda, silakan kirim ke teman Anda

    Atau beri nilai artikel ini:
    bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)
    Kategori Artikel: Tajuk
    Dimasukkan pada: 01 Jan 2007 oleh: oyr79
    Terakhir dimodifikasi pada: 01 Jan 2007

    Tanggapan Pembaca:

    Kirim Tanggapan

    abelano (18 Mar 2009):
    Habel Rudolf HemorSangat setuju sekali! dengan kata lain ketika seseorang kehilangan rasa takut (Menghormati kedaulatanNya didalam segala sesuatu), maka Imannya berarti mati jarena tumpulnya pikiran. JBU


    oyr79 (18 Mar 2009):
    Octafred Yosi R

    Science (sains) kalau dilihat dari akar katanya kan berasal dari kata scientia dalam Bahasa Latin, yang artinya "pengetahuan" (Ibrani: da'ath).

    Cob a perhatikan Amsal 1:7 dalam terjemahan Latin:

    timor Domini principium scientiae
    "takut akan TUHAN adalah prinsip sains" 

    J adi, sains juga adalah bagian dari anugerah TUHAN, dan ia akan bermanfaat jika digunakan dalam kerangka kemuliaan TUHAN.

    Artinya, sains yang ditujukan untuk kebaikan adalah sains yang harus diperjuangkan bersama oleh gereja. 


    abelano (17 Mar 2009):
    Habel Rudolf Hemor

    Bagaimana tanggapan anda soal Science?

    Salam


    oyr79 (13 Nov 2007):
    Octafred Yosi R

    Sebetulnya perayaan Natal pada 25 Desember hanyalah mewarisi perayaan yang dilegalisasi oleh Kaisar Konstantinus pada 336 M.

    Perayaan Natal, jika ingin dirayakan secara tepat, semestinya mengacu pada penanggalan atau almanak Ibrani.

    Namun, sebaiknya kita tidak terjebak pada perbedatan soal tanggal, lalu kehilangan esensi Natalnya.


    shem (13 Nov 2007):
    shem

    Shalom Alaika,

    Saya sepakat. Gereja/Qahal Mesianik di Indonesia "hampir-hampir" kedodoran dalam hal "Daat", "Binah", "Khokmah". Pengaruh Pietisme dan Kharismatikalisme [saya tidak sepenuhnya menolak fenomena ini, karena saya pernah melewati fase ini dan mengalami pencerahan ketika berada di fase ini], telah mengebiri peranan "khokmah", "binah" dan "daat" dan mendudukan dalam posisi yang inferior.Hasilnya? dapat diduga, Gereja/Qahal Mesianik di Indonesia lebih banyak berkutat dengan persoalan "pujian dan penyembahan" namun sangat jarang memberi ruang bagi "berpikir kritis", "perbedaan pendapat", "pengkajian teologis yang komprehensif". Ketika mendengar istilah "teologi", ada suatu prasangka sebagai hal yang memadamkan iman.

    But, tentang natal, boleh khan beda pendapat? silahkan mengkaji artikel saya dengan judul benarkah Yahshua lahir Tgl 25 Desember? di messianic-indonesia.c om

     

    Leh it Raot

     

    S hem 


    SILAKAN LOGIN UNTUK BISA MEMBERIKAN KOMENTAR


    << sebelumnya | berikutnya >>
    total: 5 data

     
    LOGIN: Username/Email: Password:
    Jika Anda memiliki masalah, silakan hubungi salah satu admin kami yang online:
    mi_anokhi Kirim pesan oyr79 Kirim pesan varry Kirim pesan