Sebagaimana pembahasan pada artikel tersebut, saya mengusulkan agar Kejadian
1:11 sebaiknya diterjemahkan "Dan
Elohim berfirman, 'Hendaklah
erets
menumbuhkan tumbuhan muda: tumbuhan biji-bijian dan tumbuhan buah-buahan berbiji
menurut jenisnya, di atas
erets!' Dan jadilah demikian."
Bandingkan Terjemahan Baru (TB) LAI: "Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah
menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon
buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di
bumi." Dan jadilah demikian."
Ada dua perbedaan penting yang harus diperhatikan di sini. Pertama,
menurut TB-LAI, erets (LAI: "tanah") menumbuhkan tunas-tunas muda,
tumbuh-tumbuhan berbiji, dan segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan
buah berbiji. Sementara, menurut terjemahan yang saya usulkan, erets
menumbuhkan tumbuhan biji-bijian dan tumbuhan buah-buahan berbiji.
Kedua, TB-LAI menambahkan kalimat "supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi,"
yang seharusnya dalam naskah aslinya hanya berbunyi "'al ha'arets" [di
(atas) erets (LAI: "bumi")]. Penambahan ini memberi kesan bahwa maksud
penciptaan tumbuhan hanya sekedar supaya ada tumbuhan di bumi. Menurut saya, ini
terlalu menyederhanakan pesan Alkitab itu sendiri.
Ada esensi lain yang terlupakan, yaitu mengapa Elohim menciptakan
tumbuhan pada hari ketiga? Tumbuhan menjadi mahluk hidup pertama dan menjadi
pelengkap dari suatu rangkaian indah dan kreatif terhadap proses penciptaan itu
sendiri. Meskipun, bagi penulis Kitab Kejadian, tumbuhan belum dianggap sebagai
mahluk hidup (akan dijelaskan dalam edisi berikut).
Bagi penulis Kitab Kejadian, tumbuhan merupakan logistik bagi mahluk hidup.
Artinya, usai membentuk landasan untuk suatu bentuk kehidupan, maka Elohim
mulai menyediakan terlebih dahulu, makanan bagi kehidupan itu sendiri, yaitu
dengan adanya tumbuhan. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa setelah
Elohim menyiapkan tanah, maka giliran tanah itu untuk menopang tumbuhan, dan
nantinya, tumbuhan menjadi penopang mahluk hidup.
Dengan demikian, maksud penciptaan tanah, tidak lain adalah agar tumbuhan
memiliki tempat untuk bertumbuh. Namun, tidak sesederhana itu, kehadiran
tumbuhan tak hanya menghiasi tanah, tetapi mengokohkan dan menyuburkannya. Ada
saling ketergantungan yang terjadi, sehingga penciptaan menjadi suatu proses
yang sangat jenius.
Ketika manusia merusak tanah, maka tumbuhan akan mati. Sebaliknya, ketika
manusia merusak tumbuhan, maka tanah akan gersang. Jika dirunut lebih jauh ke
belakang, kesalingbergantungan itu membentuk rantai yang panjang dan tak
terputus. Cobalah perhitungkan kehadiran air bagi tanah dan bagi tumbuhan.
Perhitungkan juga kehadiran tanah bagi air itu sendiri, serta kehadiran tumbuhan
bagi air. Luar biasa bukan?
Tapi, itu hanyalah pertimbangan ilmu alam yang bisa saja dijawab oleh seorang
ahli biologi, ekologi, dan sebagainya. Nyatanya, alkitab memang telah menjawab
lebih dulu, betapa ketergantungan itu membuat alam menjadi suatu kesatuan yang
harmonis.
Dalam makna simbolis, jika kita memperhatikan permainan istilah-istilah
Ibrani yang digunakan penulis, maka ada pesan simbolis yang merupakan bagian
dari filosofi umat Perjanjian Lama dalam pemilihan kata demi kata dari nats ini.
Erets adalah gambaran berkat dan perjanjian TUHAN. Jika kita membaca
berkat dan perjanjian TUHAN kepada Abraham dalam Kejadian 12, salah satu bagian
dari berkat dan perjanjian itu adalah pemberian erets (LAI: "negeri").
Bahkan, tujuan eksodus dari Mesir tidak lain adalah untuk mencapai erets
(LAI: "tanah") perjanjian.
Kemudian perhatikan permainan akar-akar kata-kata penting pada ayat 11 dan
12. "tumbuhan muda (dasha): tumbuhan biji-bijian (zara') dan
tumbuhan buah-buahan berbiji (para)..."
Dasha melambangkan "keberhasilan," zara' melambangkan "usaha", dan
para melambangkan "hasil." Jadi, keberhasilan (dasha) yang tumbuh
di atas berkat (erets) mencakup "usaha" (zara') dan "hasil" (para).
"Usaha" melambangkan kehidupan kita sekarang dan "hasil" melambangkan
kehidupan kita yang akan datang. Itulah sebabnya, berkat dalam konsep Perjanjian
Lama tidaklah semata-mata berbicara tentang aspek-aspek yang akan datang saja,
atau sebaliknya, aspek-aspek yang sekarang saja. Dalam filosofi Perjanjian Lama,
"diberkati" bukanlah sekedar "nanti masuk surga," melainkan juga "sukses di
dunia."
Mengenai hal ini ada beragam tafsiran. Para penganut "teologi sukses"
menafsirkan bahwa "sukses di dunia" berarti memperoleh kemakmuran secara materi.
Anak-anak TUHAN bukanlah anak-anak yang melarat dalam kemiskinan, melainkan yang
sukses menjalani kehidupan.
Para penganut "teologi penderitaan" menafsirkan bahwa "sukses di dunia" bukan
berarti menjadi kaya. Sukacita menjalani kehidupan yang penuh dengan penderitaan
adalah bagian dari "sukses di dunia." Hendaknya kita jangan terjebak pada
perdebatan itu.
Kavod Lekha YHWH Elohenu! Kavod Lekha! [oyr79].
ke atas