Berapa banyak di antara kita yang punya pendapat yang sama dengan anak
sekolah minggu dan pendeta itu? Tentu tidak sedikit, bahkan mungkin hampir
semuanya. Mengapa? Sebab itulah yang kita pelajari sejak masih di sekolah
minggu!
Tapi, tahukah Anda bahwa pada hari ketiga juga TUHAN menciptakan daratan dan
lautan? Dua elemen alam yang sangat penting dan menjadi tumpuan kehidupan bagi
semua mahluk hidup. Kita sering membacanya dalam alkitab, tapi kita terlanjur
meyakini bahwa hari ketiga hanyalah persoalan tumbuhan. Sama seperti kita
melupakan bahwa pada hari pertama TUHAN juga menciptakan siang dan malam.
Itulah sebabnya, sebelum membahas tentang penciptaan tumbuh-tumbuhan, saya
ingin kita terlebih dahulu melihat ayat 9 dan 10 dari Kejadian 1 ini.
Sebetulnya ayat 9 dan 10 ini sangatlah unik. Sebagian penafsir Perjanjian
Lama (PL) menganggap ini sebagai bagian dari karya Elohim pada hari
kedua, sebagian lagi melihatnya sebagai bagian dari karya Elohim pada
hari ketiga.
Jika kita pelajari dengan cermat, ayat 9 dan 10 ini merupakan perubahan
periode dari hal-hal yang ‘di atas’ (shamayim) kepada hal-hal yang ‘di
bawah’ (arets) [untuk penjelasan mengenai shamayim dan arets
saya menyarankan Anda untuk membaca kembali SUKA edisi November 2004 dan
artikel "Misteri
Penciptaan (1)"].
Karenanya, ayat 9 dan 10 ini tidak bisa dilepaskan dengan penciptaan pada
hari kedua, demikian juga dengan penciptaan pada hari ketiga. Namun, jika Anda
bertanya “kedua ayat ini masuk penciptaan hari keberapa?” Saya lebih baik
mengatakan bahwa keduanya berdiri sendiri, semacam selingan dalam suatu narasi,
tetapi tidak bisa diabaikan begitu saja, sebab akan merusak keseluruhan narasi
yang ada.
“Berfirmanlah Elohim” (wayyomer Elohim)
Jika kita mengikuti tata bahasa Indonesia yang baik, ayat ini seharusnya
diterjemahkan “Elohim berfirman.” Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sengaja
menerjemahkan “berfirmanlah Allah” dalam Terjemahan Baru (TB) untuk mengikuti
pola kalimat bahasa Ibrani kuno yang menggunakan pola VSO (verba – subyek –
obyek). Pola yang sama digunakan oleh bahasa-bahasa yang termasuk dalam rumpun
Semitik (Bahasa Aram, Arab, Ethiopia, dsb).
“Berkumpullah” (yiqqawu)
Terjemahan LAI menambahkan kata “hendaklah” demikian juga
terjemahan-terjemahan Inggris yang menambahkan kata “let.” Kata
yiqqawu dalam Bahasa Ibrani merupakan kata perintah. Kata ini berakar dari
kata qawa yang secara harafiah berarti “mengikat menjadi satu” dengan
cara diputar-putar.
Dalam keseluruhan PL, kata ini lebih banyak diartikan “menunggu, menanti,
berharap, dsb.” Tetapi dalam istilah kunonya, kata ini memang memiliki arti
rangkap. Penggunaan kata yiqqawu di sini—sekali lagi—untuk menunjukkan
bahwa Elohim memiliki otoritas penuh atas air, sebagaimana yang menjadi
salah satu tema pokok P dalam keseluruhan naskahnya.
“air” (hammayim)
LAI menambahkan kata “segala” kemungkinan karena adanya awalan ha-
pada kata mayim. Hal ini untuk menegaskan bahwa mayim di sini
tidaklah terbatas pada kumpulan air tertentu, melainkan semua air yang telah
Elohim ciptakan, yang berada di bawah langit.
Jadi, setelah Elohim memisahkan air di atas langit dengan air yang ada
di bawah langit (lihat ay. 7 dan penjelasannya pada SUKA edisi
sebelumnya), maka kini Elohim berkarya terhadap air yang ada di bawah
langit. Sepertinya P menghindari untuk berbicara tentang air yang ada di atas
langit, yang memang tidak lazim menjadi pembicaraan di dalam mitos-mitos
semitik.
“pada satu tempat” (el-maqom ekhad)
Kepercayaan masyarakat kuno bahwa lautan itu hanya satu, demikian juga dengan
daratan. Mereka belum mengenal akan keberadaan pulau-pulau. Teori satu lautan
dan satu daratan ini pernah dikait-kaitkan dengan teori pergerakan lempeng bumi.
Dimana, para teolog yang coba mengkaji secara nalar sains mengatakan bahwa pada
awalnya daratan ini hanyalah satu, tetapi kemudian terpisah akibat adanya
pergerakan pada lempeng bumi dan mencairnya es.
Agaknya terlalu dipaksakan untuk mengantarkan pemahaman kita ke arah sana,
sebab teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa P tidak menuliskan mengenai
keberadaan danau maupun kumpulan-kumpulan air yang ada di darat. Lagipula dalam
salah satu kitab Yahudi, yaitu kitab Esdras dikatakan bahwa pada hari ketiga,
TUHAN memisahkan bumi ke dalam tujuh bagian, dimana enam bagian di antaranya
adalah daratan (4Esdras 6:42).
Teori semacam itu pada akhirnya banyak ditentang oleh para penafsir PL,
sebab, sulit untuk membuktikan bahwa P menguraikan segala sesuatu secara
harafiah ketika ia sedang berhadapan dengan dunia yang penuh dengan mitos. Itu
sama saja dengan menguraikan alam semesta secara mitologis di dunia modern yang
butuh penjelasan saintis.
Kita harus melihat bahwa “pada satu tempat” di sini bukanlah menjadi
penekanan penting bagi P, tetapi yang penting baginya adalah kalimat yang
mengikutinya “sehingga kelihatan yang kering” (wethera’e hayyabbasha).
Kembali ada proses pemisahan di sini sebagaimana telah dijelaskan dalam
proses-proses penciptaan sebelumnya (baca artikel-artikel sebelumnya).
Pemisahan tidak saja menjelaskan mengenai konsep dualisme dalam teologi P,
tetapi sekaligus menjelaskan tentang hubungan sebab-akibat dalam setiap ciptaan
Elohim. Hubungan sebab-akibat ini membuat segala sesuatu itu menjadi
harmonis dan saling bergantung, sehingga apabila kita merusak yang satu, maka
yang lain akan terkena imbasnya.
Kata maqom dalam Bahasa Ibrani dengan jelas menunjukkan suatu tempat
yang dikhususkan untuk menampung sesuatu atau bisa dikatakan semacam lokalisasi.
Elohim mengumpulkan air pada satu maqom, sehingga maqom
yang lain menjadi kering. Maqom yang kering itulah yang selanjutnya
disebut darat (erets), sedangkan maqom yang berisi air disebut
laut (yamim).
Proses penamaan dalam bagian ini dilakukan sendiri oleh Elohim. Hal
ini untuk mempertegas otoritas Elohim atas keduanya (darat dan laut),
sekaligus untuk menolak pemahaman politeistik yang mengatakan bahwa penguasa
laut dan penguasa darat adalah dua oknum ilahi (dewa) yang berbeda.
“Elohim melihat bahwa semuanya itu baik” (wayyir’e Elohim
ki-tov)
Dalam SUKA edisi sebelumnya sudah dijelaskan bahwa pada hari kedua,
kalimat ini tidak ada. Kalimat ini baru muncul pada ayat ke-10. Inilah yang
menjadikan dasar bagi sebagian penafsir untuk mengatakan bahwa ayat 9 dan 10 ini
merupakan satu kesatuan dengan keseluruhan proses penciptaan pada hari kedua.
Memang harus dipahami di sini bahwa yang disebut tov (baik; bagus;
indah; cantik; dsb) oleh Elohim tidak terbatas pada darat dan laut saja,
tetapi keseluruhan proses penciptaan, mulai dari penciptaan cakrawala, pemisahan
air yang ada di atas dengan air yang ada di bawah (ay. 6-8), hingga pemisahan
antara daratan dan lautan. Mungkin, hal itulah yang mendasari LAI untuk
menambahkan kata “semuanya” pada ayat ini (bandingkan pada penciptaan hari
pertama, LAI menggunakan kalimat “terang itu baik”).
Persoalannya adalah kata tov di sini adalah sebuah kata sifat tunggal.
Jika diterjemahkan “semuanya” maka seharusnya menggunakan kata tovim
(bentuk jamak maskulin untuk kata tov). Karena itu, dalam hal terjemahan,
saya lebih sependapat dengan terjemahan Inggris, seperti King James Version,
yang menerjemahkannya “it was good”.
Kenapa tunggal? Sebab, proses itu berlangsung dalam satu kesatuan proses,
bukan sekumpulan proses. Jadi, meskipun di situ ada proses mencipta, memisahkan,
menamai, dan mengevaluasi, tetapi semuanya itu merupakan satu proses yang
dikerjakan Elohim.
Dengan demikian, saya sangat tidak setuju jika ada pandangan yang
mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wayyir’e Elohim ki-tov di sini
berarti Elohim melihat bahwa darat dan laut itu baik.
Ukuran tov di sini bukanlah pada obyek atau materi yang dihasilkan,
tetapi pada keseluruhannya, mulai dari ide (davar) hingga hasil. Semuanya
itu haruslah kita lihat sebagai satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan!
Demikian juga seharusnya dengan ayat 4, agak keliru menerjemahkannya “Elohim
melihat bahwa terang itu baik.”
Kavod Lekha YHWH Elohenu! Kavod Lekha! [oyr79].
ke atas