Artikel
 
Pilih Kategori:
Google

  • Biblika
  • Dari Anda
  • Eksplorasi Alkitab
  • Ensiklopedi Teologi
  • Episcopal Messages
  • Info
  • Kesehatan
  • Khotbah...
  • Midrash
  • Tajuk
  • Semua Artikel
  • Daratan dan Lautan
    Kejadian 1:9-10

    Dibaca sebanyak: 509 kali | | kirim ke teman

    Oleh: Yosi Rorimpandei
    Beri nilai artikel ini: bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)

    Pada suatu kesempatan saya bertanya pada seorang anak sekolah minggu, “Apakah yang TUHAN ciptakan pada hari ketiga?” Spontan dan dengan tanpa ragu anak sekolah minggu itu menjawab “Tumbuhan!” Ooh... betulkah??? Pada kesempatan yang lain, seorang pendeta dengan berapi-api, di atas mimbar, berkata “Tahukah saudara apa yang TUHAN ciptakan pada hari ketiga?” ia pun menjawabnya sendiri “Tumbuhan!”
    baca lanjutan


    Berapa banyak di antara kita yang punya pendapat yang sama dengan anak sekolah minggu dan pendeta itu? Tentu tidak sedikit, bahkan mungkin hampir semuanya. Mengapa? Sebab itulah yang kita pelajari sejak masih di sekolah minggu!

    Tapi, tahukah Anda bahwa pada hari ketiga juga TUHAN menciptakan daratan dan lautan? Dua elemen alam yang sangat penting dan menjadi tumpuan kehidupan bagi semua mahluk hidup. Kita sering membacanya dalam alkitab, tapi kita terlanjur meyakini bahwa hari ketiga hanyalah persoalan tumbuhan. Sama seperti kita melupakan bahwa pada hari pertama TUHAN juga menciptakan siang dan malam.

    Itulah sebabnya, sebelum membahas tentang penciptaan tumbuh-tumbuhan, saya ingin kita terlebih dahulu melihat ayat 9 dan 10 dari Kejadian 1 ini.

    Sebetulnya ayat 9 dan 10 ini sangatlah unik. Sebagian penafsir Perjanjian Lama (PL) menganggap ini sebagai bagian dari karya Elohim pada hari kedua, sebagian lagi melihatnya sebagai bagian dari karya Elohim pada hari ketiga.

    Jika kita pelajari dengan cermat, ayat 9 dan 10 ini merupakan perubahan periode dari hal-hal yang ‘di atas’ (shamayim) kepada hal-hal yang ‘di bawah’ (arets) [untuk penjelasan mengenai shamayim dan arets saya menyarankan Anda untuk membaca kembali SUKA edisi November 2004 dan artikel "Misteri Penciptaan (1)"].

    Karenanya, ayat 9 dan 10 ini tidak bisa dilepaskan dengan penciptaan pada hari kedua, demikian juga dengan penciptaan pada hari ketiga. Namun, jika Anda bertanya “kedua ayat ini masuk penciptaan hari keberapa?” Saya lebih baik mengatakan bahwa keduanya berdiri sendiri, semacam selingan dalam suatu narasi, tetapi tidak bisa diabaikan begitu saja, sebab akan merusak keseluruhan narasi yang ada.

    “Berfirmanlah Elohim(wayyomer Elohim)

    Jika kita mengikuti tata bahasa Indonesia yang baik, ayat ini seharusnya diterjemahkan “Elohim berfirman.” Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sengaja menerjemahkan “berfirmanlah Allah” dalam Terjemahan Baru (TB) untuk mengikuti pola kalimat bahasa Ibrani kuno yang menggunakan pola VSO (verba – subyek – obyek). Pola yang sama digunakan oleh bahasa-bahasa yang termasuk dalam rumpun Semitik (Bahasa Aram, Arab, Ethiopia, dsb).

    “Berkumpullah” (yiqqawu)

    Terjemahan LAI menambahkan kata “hendaklah” demikian juga terjemahan-terjemahan Inggris yang menambahkan kata “let.” Kata yiqqawu dalam Bahasa Ibrani merupakan kata perintah. Kata ini berakar dari kata qawa yang secara harafiah berarti “mengikat menjadi satu” dengan cara diputar-putar.

    Dalam keseluruhan PL, kata ini lebih banyak diartikan “menunggu, menanti, berharap, dsb.” Tetapi dalam istilah kunonya, kata ini memang memiliki arti rangkap. Penggunaan kata yiqqawu di sini—sekali lagi—untuk menunjukkan bahwa Elohim memiliki otoritas penuh atas air, sebagaimana yang menjadi salah satu tema pokok P dalam keseluruhan naskahnya.

    “air” (hammayim)

    LAI menambahkan kata “segala” kemungkinan karena adanya awalan ha- pada kata mayim. Hal ini untuk menegaskan bahwa mayim di sini tidaklah terbatas pada kumpulan air tertentu, melainkan semua air yang telah Elohim ciptakan, yang berada di bawah langit.

    Jadi, setelah Elohim memisahkan air di atas langit dengan air yang ada di bawah langit (lihat ay. 7 dan penjelasannya pada SUKA edisi sebelumnya), maka kini Elohim berkarya terhadap air yang ada di bawah langit. Sepertinya P menghindari untuk berbicara tentang air yang ada di atas langit, yang memang tidak lazim menjadi pembicaraan di dalam mitos-mitos semitik.

    “pada satu tempat” (el-maqom ekhad)

    Kepercayaan masyarakat kuno bahwa lautan itu hanya satu, demikian juga dengan daratan. Mereka belum mengenal akan keberadaan pulau-pulau. Teori satu lautan dan satu daratan ini pernah dikait-kaitkan dengan teori pergerakan lempeng bumi. Dimana, para teolog yang coba mengkaji secara nalar sains mengatakan bahwa pada awalnya daratan ini hanyalah satu, tetapi kemudian terpisah akibat adanya pergerakan pada lempeng bumi dan mencairnya es.

    Agaknya terlalu dipaksakan untuk mengantarkan pemahaman kita ke arah sana, sebab teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa P tidak menuliskan mengenai keberadaan danau maupun kumpulan-kumpulan air yang ada di darat. Lagipula dalam salah satu kitab Yahudi, yaitu kitab Esdras dikatakan bahwa pada hari ketiga, TUHAN memisahkan bumi ke dalam tujuh bagian, dimana enam bagian di antaranya adalah daratan (4Esdras 6:42).

    Teori semacam itu pada akhirnya banyak ditentang oleh para penafsir PL, sebab, sulit untuk membuktikan bahwa P menguraikan segala sesuatu secara harafiah ketika ia sedang berhadapan dengan dunia yang penuh dengan mitos. Itu sama saja dengan menguraikan alam semesta secara mitologis di dunia modern yang butuh penjelasan saintis.

    Kita harus melihat bahwa “pada satu tempat” di sini bukanlah menjadi penekanan penting bagi P, tetapi yang penting baginya adalah kalimat yang mengikutinya “sehingga kelihatan yang kering” (wethera’e hayyabbasha). Kembali ada proses pemisahan di sini sebagaimana telah dijelaskan dalam proses-proses penciptaan sebelumnya (baca artikel-artikel sebelumnya).

    Pemisahan tidak saja menjelaskan mengenai konsep dualisme dalam teologi P, tetapi sekaligus menjelaskan tentang hubungan sebab-akibat dalam setiap ciptaan Elohim. Hubungan sebab-akibat ini membuat segala sesuatu itu menjadi harmonis dan saling bergantung, sehingga apabila kita merusak yang satu, maka yang lain akan terkena imbasnya.

    Kata maqom dalam Bahasa Ibrani dengan jelas menunjukkan suatu tempat yang dikhususkan untuk menampung sesuatu atau bisa dikatakan semacam lokalisasi. Elohim mengumpulkan air pada satu maqom, sehingga maqom yang lain menjadi kering. Maqom yang kering itulah yang selanjutnya disebut darat (erets), sedangkan maqom yang berisi air disebut laut (yamim).

    Proses penamaan dalam bagian ini dilakukan sendiri oleh Elohim. Hal ini untuk mempertegas otoritas Elohim atas keduanya (darat dan laut), sekaligus untuk menolak pemahaman politeistik yang mengatakan bahwa penguasa laut dan penguasa darat adalah dua oknum ilahi (dewa) yang berbeda.

    Elohim melihat bahwa semuanya itu baik” (wayyir’e Elohim ki-tov)

    Dalam SUKA edisi sebelumnya sudah dijelaskan bahwa pada hari kedua, kalimat ini tidak ada. Kalimat ini baru muncul pada ayat ke-10. Inilah yang menjadikan dasar bagi sebagian penafsir untuk mengatakan bahwa ayat 9 dan 10 ini merupakan satu kesatuan dengan keseluruhan proses penciptaan pada hari kedua.

    Memang harus dipahami di sini bahwa yang disebut tov (baik; bagus; indah; cantik; dsb) oleh Elohim tidak terbatas pada darat dan laut saja, tetapi keseluruhan proses penciptaan, mulai dari penciptaan cakrawala, pemisahan air yang ada di atas dengan air yang ada di bawah (ay. 6-8), hingga pemisahan antara daratan dan lautan. Mungkin, hal itulah yang mendasari LAI untuk menambahkan kata “semuanya” pada ayat ini (bandingkan pada penciptaan hari pertama, LAI menggunakan kalimat “terang itu baik”).

    Persoalannya adalah kata tov di sini adalah sebuah kata sifat tunggal. Jika diterjemahkan “semuanya” maka seharusnya menggunakan kata tovim (bentuk jamak maskulin untuk kata tov). Karena itu, dalam hal terjemahan, saya lebih sependapat dengan terjemahan Inggris, seperti King James Version, yang menerjemahkannya “it was good”.

    Kenapa tunggal? Sebab, proses itu berlangsung dalam satu kesatuan proses, bukan sekumpulan proses. Jadi, meskipun di situ ada proses mencipta, memisahkan, menamai, dan mengevaluasi, tetapi semuanya itu merupakan satu proses yang dikerjakan Elohim.

    Dengan demikian, saya sangat tidak setuju jika ada pandangan yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wayyir’e Elohim ki-tov di sini berarti Elohim melihat bahwa darat dan laut itu baik.

    Ukuran tov di sini bukanlah pada obyek atau materi yang dihasilkan, tetapi pada keseluruhannya, mulai dari ide (davar) hingga hasil. Semuanya itu haruslah kita lihat sebagai satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan! Demikian juga seharusnya dengan ayat 4, agak keliru menerjemahkannya “Elohim melihat bahwa terang itu baik.”

    Kavod Lekha YHWH Elohenu! Kavod Lekha! [oyr79].


    ke atas
    Masukkan Username/Email dan Password Anda
    untuk login ke situs ini

    Username/Email:

    Password:

    Daftar | Lupa password

    Shalom 38.107.191.101!

    Jika Anda merasa bahwa artikel ini penting untuk dibagikan ke teman Anda, silakan kirim ke teman Anda

    Atau beri nilai artikel ini:
    bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)
    Kategori Artikel: Eksplorasi Alkitab
    Dimasukkan pada: 21 Feb 2007 oleh: oyr79
    Terakhir dimodifikasi pada: 21 Feb 2007

    Tanggapan Pembaca:

    Kirim Tanggapan

    Belum ada tanggapan...

    SILAKAN LOGIN UNTUK BISA MEMBERIKAN KOMENTAR


    << sebelumnya | berikutnya >>
    total: 0 data

     
    LOGIN: Username/Email: Password:
    Jika Anda memiliki masalah, silakan hubungi salah satu admin kami yang online:
    mi_anokhi Kirim pesan oyr79 Kirim pesan varry Kirim pesan