Apa yang harus diwaspadai? Judul berita itu dengan lugas menjawab
“Waspada Pemurtadan.” Suatu peringatan dini yang terlalu jauh dibanding
peringatan dini tsunami ataukah gambaran keberagamaan di negara ini yang kian
diwarnai sekat-sekat ciptaan para penderita
religiofobia (ketakutan
terhadap agama tertentu)?
Ketika kita berbicara tentang agama, ada dua fungsi penting yang
tidak mungkin dilepaskan, yaitu fungsi vertikal dan fungsi horizontal. Fungsi
vertikal berbicara tentang fungsi agama untuk mengarahkan umat kepada Yang Maha
Kuasa, sedangkan fungsi horizontal berbicara tentang fungsi agama untuk menjaga
keharmonisan alam semesta.
Dalam menjalankan fungsinya yang pertama, agama menekankan pada
aspek-aspek spiritual dari ibadahnya, sedangkan fungsi yang kedua lebih
ditekankan pada aspek-aspek moral dan kemanusiaan.
Yesus mengajarkan, bahwa dalam menjalankan kedua fungsi tersebut,
tidak bisa hanya ditekankan pada salah satunya saja. Kita tidak mungkin
mengatakan mencintai ALLAH jika kita tidak sanggup mencintai ciptaan-NYA,
demikian juga kita tidak mungkin mencintai ciptaan-NYA lalu membenci
Penciptanya.
Jika keduanya fungsi itu dijalankan secara integral, maka agama
tidak akan semata-mata menekankan pada aspek kesalehan pribadi, tetapi juga
bagaimana ia peduli dengan kehidupan manusia dan alam semesta dalam konteks
nasional dan universal tanpa memandang bulu.
Bencana alam: tsunami, gempa, banjir bandang, banjir lumpur, tanah
longsor dan berbagai macam penyakit yang datang susul-menyusul di negeri
tercinta ini, telah menguras kepedihan dan air mata kita sebagai bangsa dan
sesama manusia. Ribuan nyawa melayang dan menjadi korban, ribuan lainnya
kehilangan tempat tinggal, kehilangan sanak keluarga bahkan kehilangan masa
depan.
Pada wilayah penderitaan dan kesedihan umat semacam inilah kita
patut mengukur dan mempertanyakan pada diri kita masing-masing, manakah yang
lebih berat antara timbangan fungsi vertikal kita yang menuntut penimbunan
kesalehan pribadi, dengan fungsi horizontal yang memanggil untuk peduli pada
sesama?
Seyogyanya, bencana alam dan berbagai musibah di negara ini dapat
menjadi kesadaran bersama bagi seluruh umat beragama untuk menghilangkan segala
bentuk kecurigaan (prejudice), tembok-tembok pemisah, dan pengotakan
antar-agama yang kerap berujung pada konflik teologis-politis yang tak pernah
usai.
Bukankah bencana dan musibah itu tak pernah pandang bulu atau pilih
kasih terhadap agama, tradisi, negara ataupun bangsa? Lihatlah bagaimana
kepedulian negara-negara sahabat dan dunia internasional yang demikian antusias
melupakan segala macam sekat dan perbedaan agama, warna kulit, tradisi, strata
sosial dan kewarganegaraan!
Jangan sampai, nurani kemanusiaan kita dibatasi oleh persoalan
keagamaan, sebab seharusnya agamalah yang memertajam nurani kita untuk semakin
peduli dengan mereka yang menjadi korban bencana alam.
Mari kita bertanya kembali, model keberagamaan apa yang kita miliki
selama ini, ketika peran profetis keagamaan kita untuk tergerak peduli demi
menolong sesama harus berhenti pada batas kotak ideologis rumusan keimanan
subyektif kita? Lebih aneh lagi jika ketulusan uluran kepedulian juga harus
dibatasi pada seleksi ideologis agama.
Marilah kita renungkan kembali sebuah pertanyaan mendasar,
“dimanakah hendak kita letakkan keimanan keagamaan kita di tengah penderitaan
dan problem kemanusiaan yang semakin telanjang dan menghampiri kita setiap
hari?” Barangkali, di sinilah kita sepatutnya memaknai bencana itu
[JRC].
ke atas