Artikel
 
Pilih Kategori:
Google

  • Biblika
  • Dari Anda
  • Eksplorasi Alkitab
  • Ensiklopedi Teologi
  • Episcopal Messages
  • Info
  • Kesehatan
  • Khotbah...
  • Midrash
  • Tajuk
  • Semua Artikel
  • Agama: Antara Ideologi dan Kemanusiaan

    Dibaca sebanyak: 415 kali | | kirim ke teman

    Oleh: JRC
    Beri nilai artikel ini: bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)

    Sebuah harian nasional secara mengejutkan memberitakan perihal ucapan seorang ulama mengenai apa yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ketika orang-orang dalam keprihatinannya mengulurkan bantuan ikhlasnya, sang ulama malah menyerukan untuk “Waspada!” bak Bang Napi mengingatkan soal kejahatan.
    baca lanjutan



    Apa yang harus diwaspadai? Judul berita itu dengan lugas menjawab “Waspada Pemurtadan.” Suatu peringatan dini yang terlalu jauh dibanding peringatan dini tsunami ataukah gambaran keberagamaan di negara ini yang kian diwarnai sekat-sekat ciptaan para penderita religiofobia (ketakutan terhadap agama tertentu)?

    Ketika kita berbicara tentang agama, ada dua fungsi penting yang tidak mungkin dilepaskan, yaitu fungsi vertikal dan fungsi horizontal. Fungsi vertikal berbicara tentang fungsi agama untuk mengarahkan umat kepada Yang Maha Kuasa, sedangkan fungsi horizontal berbicara tentang fungsi agama untuk menjaga keharmonisan alam semesta.

    Dalam menjalankan fungsinya yang pertama, agama menekankan pada aspek-aspek spiritual dari ibadahnya, sedangkan fungsi yang kedua lebih ditekankan pada aspek-aspek moral dan kemanusiaan.

    Yesus mengajarkan, bahwa dalam menjalankan kedua fungsi tersebut, tidak bisa hanya ditekankan pada salah satunya saja. Kita tidak mungkin mengatakan mencintai ALLAH jika kita tidak sanggup mencintai ciptaan-NYA, demikian juga kita tidak mungkin mencintai ciptaan-NYA lalu membenci Penciptanya.

    Jika keduanya fungsi itu dijalankan secara integral, maka agama tidak akan semata-mata menekankan pada aspek kesalehan pribadi, tetapi juga bagaimana ia peduli dengan kehidupan manusia dan alam semesta dalam konteks nasional dan universal tanpa memandang bulu.

    Bencana alam: tsunami, gempa, banjir bandang, banjir lumpur, tanah longsor dan berbagai macam penyakit yang datang susul-menyusul di negeri tercinta ini, telah menguras kepedihan dan air mata kita sebagai bangsa dan sesama manusia. Ribuan nyawa melayang dan menjadi korban, ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal, kehilangan sanak keluarga bahkan kehilangan masa depan.

    Pada wilayah penderitaan dan kesedihan umat semacam inilah kita patut mengukur dan mempertanyakan pada diri kita masing-masing, manakah yang lebih berat antara timbangan fungsi vertikal kita yang menuntut penimbunan kesalehan pribadi, dengan fungsi horizontal yang memanggil untuk peduli pada sesama?

    Seyogyanya, bencana alam dan berbagai musibah di negara ini dapat menjadi kesadaran bersama bagi seluruh umat beragama untuk menghilangkan segala bentuk kecurigaan (prejudice), tembok-tembok pemisah, dan pengotakan antar-agama yang kerap berujung pada konflik teologis-politis yang tak pernah usai.

    Bukankah bencana dan musibah itu tak pernah pandang bulu atau pilih kasih terhadap agama, tradisi, negara ataupun bangsa? Lihatlah bagaimana kepedulian negara-negara sahabat dan dunia internasional yang demikian antusias melupakan segala macam sekat dan perbedaan agama, warna kulit, tradisi, strata sosial dan kewarganegaraan!

    Jangan sampai, nurani kemanusiaan kita dibatasi oleh persoalan keagamaan, sebab seharusnya agamalah yang memertajam nurani kita untuk semakin peduli dengan mereka yang menjadi korban bencana alam.

    Mari kita bertanya kembali, model keberagamaan apa yang kita miliki selama ini, ketika peran profetis keagamaan kita untuk tergerak peduli demi menolong sesama harus berhenti pada batas kotak ideologis rumusan keimanan subyektif kita? Lebih aneh lagi jika ketulusan uluran kepedulian juga harus dibatasi pada seleksi ideologis agama.

    Marilah kita renungkan kembali sebuah pertanyaan mendasar, “dimanakah hendak kita letakkan keimanan keagamaan kita di tengah penderitaan dan problem kemanusiaan yang semakin telanjang dan menghampiri kita setiap hari?” Barangkali, di sinilah kita sepatutnya memaknai bencana itu [JRC].


    ke atas
    Masukkan Username/Email dan Password Anda
    untuk login ke situs ini

    Username/Email:

    Password:

    Daftar | Lupa password

    Shalom 38.107.191.100!

    Jika Anda merasa bahwa artikel ini penting untuk dibagikan ke teman Anda, silakan kirim ke teman Anda

    Atau beri nilai artikel ini:
    bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)
    Kategori Artikel: Tajuk
    Dimasukkan pada: 01 Jul 2006 oleh: oyr79
    Terakhir dimodifikasi pada: 01 Jul 2006

    Tanggapan Pembaca:

    Kirim Tanggapan

    Belum ada tanggapan...

    SILAKAN LOGIN UNTUK BISA MEMBERIKAN KOMENTAR


    << sebelumnya | berikutnya >>
    total: 0 data

     
    LOGIN: Username/Email: Password:
    Jika Anda memiliki masalah, silakan hubungi salah satu admin kami yang online:
    mi_anokhi Kirim pesan oyr79 Kirim pesan varry Kirim pesan