Kehadiran jemaat dalam setiap peribadatan, semata-mata untuk
memenuhi kepuasan mereka. Akibatnya, alasan ingin mendapatkan “khotbah yang
bagus” atau “musik yang menyentuh” serta alasan sejenis itu, banyak mengemuka
tatkala ia ditanya alasan kedatangannya ke gereja.
Mentalitas sebagai konsumenlah yang menjadi pemicu fenomena
ini. Colson menyebutnya sebagai mentalitas “McChurch.” Suatu mentalitas
yang telah menjadikan gereja sebagai salah satu pemain dalam persaingan bisnis
modern. Jemaat pun dimanjakan dengan produk-produk pelayanan spiritual semisal
urapan ilahi, doa pemulihan, hingga kesembuhan ilahi.
Fenomena ini berdampak pada krisis identitas gereja. Gereja
sebagai simbol Kerajaan ALLAH menjadi wadah pemenuhan kepuasan spiritual jemaat
belaka. Survei yang dilakukan Business Week misalnya menyebutkan angka
penjualan buku di toko-toko buku Kristen didominasi oleh buku-buku yang terfokus
pada penghargaan, kepuasaan, dan analisa pribadi, dimana rujukan utamanya adalah
pengalaman hidup sang penulis.
Di satu sisi, fenomena semacam ini merupakan fenomena yang
wajar sebagai dampak dari upaya gereja menjawab tantangan perubahan zaman.
Namun, di sisi lain, fenomena menjawab kebutuhan pasar ini menjadikan teologi
gereja sebagai teologi individualis. Teologi yang dapat mengaburkan pesan atau
kerugma gereja yang sesungguhnya, sebagai alat ALLAH untuk-tidak saja
menghibur, tapi juga-menyampaikan pesan kenabian.
Dampak lain dari fenomena ini adalah munculnya modernisasi
mistik. Ibadah ala perdukunan beberapa abad silam, disulap menjadi ibadah
penyembuhan atas nama Kristus. Spanduk besar bertuliskan “Kesembuhan Ilahi” pun
menjadi harga jual sebuah ibadah.
Dalam bahasa yang lebih lugas, Colson mengatakan,
kecenderungan gereja untuk menjawab kebutuhan pasar telah menodai semangat
Injil. Betapa tidak, gereja kini menawarkan “therapy” penghapusan dosa
melalui ibadah-ibadah urapannya, padahal Injil mengajarkan bahwa harapan
penghapusan dosa hanya bisa terwujud melalui kesadaran diri yang penuh dan
pertobatan yang tulus.
Dampak lebih jauh dari mentalitas McChurch adalah
menelanjangi otoritas gereja. Gereja kehilangan 2D yang sangat vital:
disciple (pemuridan) dan discipline (disiplin). Hal ini disebabkan
karena gereja lebih berorientasi pada upaya membahagiakan jemaat, bukan lagi
membuat mereka “kudus”.
Secara teologis, manifestasi keberagamaan dalam bentuk
mentalitas McChurch-sekali lagi-merupakan hal yang ”wajar”, mengingat salah satu
aspek agama adalah memberikan kepastian dan ketentraman pada umat pemeluknya.
Namun demikian, mesti diingat kembali bahwa agama tidak berperan melulu hanya
demi kepentingan pribadi dan batin saja.
Tujuan utama setiap agama tidak sekedar pada orientasi umat
secara pribadi, tetapi lebih pada tujuan dan cita-cita universalnya: menciptakan
tatanan dunia yang lebih beradab, sejahtera, berkeadilan, penuh kedamaian bagi
kehidupan seluruh mahluk ciptaan ALLAH di muka bumi.
Puncak capaian tatanan situasi semacam inilah yang diidealkan
oleh berbagai agama: “menghadirkan Kerajaan ALLAH di dunia.” Suatu kerajaan yang
tidak melulu berbicara tentang kepuasan batin, tetapi lebih didominasi oleh
kepentingan kesejahteraan bersama. Ia tidak bertanya “apa yang dibutuhkan
jemaat” saja, tetapi ia akan mencari jawaban atas pertanyaan “apa yang
dibutuhkan dunia.”
Dengan demikian, mentalitas Kerajaan ALLAH, adalah mentalitas
yang mendorong umat untuk berpikir bahwa kesejahteraan bangsa, negara, dan dunia
adalah kesejahteraannya juga, bukan mentalitas yang hanya melulu menjadikan umat
larut dalam upaya menyelesaikan krisis pribadi, sehingga lalai memikirkan orang
lain.
“Kasihilah ALLAH, Tuhanmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu… dan kasihilah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri...” (Mat. 22:37, 39)
Mentalitas Kerajaan ALLAH adalah mentalitas yang mendorong umat untuk
berpikir bagaimana menyembuhkan penyakit dunia ini, bukan mentalitas yang
mendorong umat untuk mencari kesembuhan bagi penyakitnya sendiri
[JRC]
ke atas