Secara keseluruhan, perikop ini diyakini berasal dari sumber
Priest . Ini adalah bagaimana sumber P itu bercerita tentang perjanjian dengan Abraham. Perjanjian yang sama diungkapkan oleh sumber lainnya, yaitu sumber
Jahwist (J) atau
Yahwis (Y) dalam pasal 15.
Karena berasal dari sumber P, maka banyak nilai-nilai ibadah dimasukkan dalam narasi ini, di antaranya adalah sunat sebagai tanda perjanjian itu sendiri.
Dalam mempelajari firman YHWH, harus memiliki sikap seperti orang-orang Berea (Kis. 17:10-11), metode eksegese, menyelidiki dengan seksama sampai kita menemukan pesan, mengajar orang memancing, bukan memberi ikan. Dalam membaca dan mempelajari kitab suci yang paling utama diperlukan adalah hati (Kis.17:11).
Hati itu sangat penting, sebab apabila hati seseorang tidak terbuka maka benih Firman itu tidak mungkin tertanam, bertumbuh, berbuah di dalam kehidupan kita. Seseorang boleh mendengar tetapi yang paling utama adalah mendengarkan Firman itu dengan hati sehingga memiliki kuasa.Yang kedua, dengan akal yang sehat, menyelidiki Firman tersebut.
Menyelidiki bukan dengan perasaan melainkan memakai akal pikiran yang sehat. Tetapi akal yang dipergunakan adalah akal yang tunduk kepada iman dan hati. Didalam mempelajari Alkitab kita membutuhkan sesuatu persiapan yang baik. Dengan demikian dalam menafsirkan Alkitab membutuhkan suatu disiplin ilmu, sama dengan ilmu-ilmu lain.
Untuk itu kita mempelajari apa yang menjadi pesan dari kejadian 17:1-27 lewat sebuah penyelidikan yang benar.
JANJI ALLAH KEPADA ABRAHAM
1. Abraham bapak orang beriman, “ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun” (1a). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menampakkan diri kepada Abram. TUHAN menampakkan kediri kepada Abram artinya TUHAN yang kita sembah ini bukan hasil penemuan manuasia, bukan hasil meditasi manusia, bukan hasil pengalaman manusia. Kalau Allah itu tidak menyatakan diri kepada manusia maka manusia tidak mungkin mengenal Allah.
Jadi, Allahlah yang mengenalkan diriNya, Allah yang tadinya tersembunyi, “tidak seorang pun yang pernah mengenal Bapa kecuali Anak yang dipangkuan Bapa dan Dialah yang menyatakannya”. Kalimat yang mengatakan “ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun” bertujuan menjelaskan bahwa Allah ketika memanggil Abram jelas memiliki informasi yang jelas. [Panggilan itu pribadi dengan alamat dan keadaan yang jelas, band. 16:16; 17:25].
Allah itu kalau memilih seseorang sangat Jelas, dan kita juga boleh percaya karena kita dipilih oleh Allah. Kebanggaan kita sebagai orang percaya adalah karena kita merupakan hasil pilihan Alah, bukan dengan usaha kita sendiri. Karena itu orang yang telah dipilih oleh Allah tidak mungkin meninggalkan Allah, apabila dirinya betul dipilih oleh Allah.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dengan Yudas? Yudas tidak meninggalkan Allah, Yudas dipilih sebagai murid tetapi sejak dari Awal Yudas tidak dipilih untuk menerima kasih karunia Allah, Mengapa (baca Yoh 6:70 “Jawab Yesus kepada meraka; bukankah aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seoran diantaramu adalah Iblis.jadi dari sejak semula Yudas adalah Iblis”). Itulah perbedaan yang telah dipilih oleh Allah dengan yang tidak dipilih Allah. Dengan demikian yang sungguh-sungguh masuk di dalam Allah tidak mungkin keluar.
Cara apa yang harus kita tempuh agar dapat bertahan dalam Allah sampai kesudahannya? kekuatan apa yang perlu kita pakai? (baca 1 Petrus 1:5 “ yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir).
Kita dapat bertahan bukan karena kekuatan kita melainkan karena pemeliharaan roh kudus yang nyata di dalam iman (baca Roma 1:17). Jadi alamat Firman TUHAN tidak pernah keliru, langsung pada seseorang. Jadi apabila seseorang telah dipilih oleh Allah maka tidak ada yang mampu menghapuskan nama kita di dalam Allah, baik itu Iblis maupun malaikat. Ukuranya adalah siapa yang bertahan sampai akhir dengan iman.
2. Berita penampakan: “YHWH menampakkan diri kepada Abraham” (1b),
2.1 Perkenalan diri Allah “ El Shaddai ” (1c)
Secara harafiah sebetulnya istilah ini berarti “Allah, Dia Yang Dari Gunung,” suatu istilah yang juga lazim muncul dalam literatur Kanaan. Dalam pemahaman teologis kemudian, El Shaddai dimaknai “Allah Maha Kuasa.” Allah memperkenalkan diri kepada Abram dengan menyatakan segala kedualatan dan kekuasaan-Nya
2.2 Petunjuk: “hidup di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (1d)
Secara harafiah: “Berjalan di jalan-Ku dan tidak bercela.” Sebetulnya kata thamim berjalan lurus, bagaimana berjalan lurus? Yaitu menurut kehendak Allah, bagaimana tuntunan Allah? Yaitu lewat tuntunan Allah supaya kita tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan.
2.3 Janji: “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau” (2a). Artinya TUHAN akan mengikatkan diri-KU kepadamu, Aku akan menetapkan perjanjian-KU. Ayat 4 “ dari pihak-KU, inilah perjanjian-KU kepada engkau. Dengan demikian kehidupan Kekristenan itu jelas, kita hidup dalam perjanjian Allah.
Kata nathan ketika diterjemahkan “mengadakan” (TB) atau “ make ” (KJV), mengurangi makna kalimat ini. Terjemahan BIS lebih jelas “mengikat” atau “menetapkan” (band. terjemahan Jewish Study Bible : “ establish ”). Adapun isi perjanjian Allah itu adalah terkandung dalam ayat 2b
2.4 Isi janji Allah: “dan Aku akan membuat engkau sangat banyak ” (2b). Perjanjian Allah kepada Abraham yang sudah berumur sembilan puluh sembilan tahun yaitu membuat keturunannya sangat banyak, secara harafiah: “berlipat kali ganda”. Padahal kondisi Abram tidak memungkinkan mendapatkan keturunan karena Sara mandul.
2.4.1 Band. dengan keadaan Abraham (Kej. 11:30) “mandul” ( ‘aqar ). Tetapi apabila Allah yang berjanji tidak pernah melihat kondisi kita, keadaan kita, kemampuan kita melainkan Allah hanya melihat karena Dia El Shaddai . Karena Dia El Shaddai sehingga tidak pernah melihat apapun yang ada dalam diri kita.
2.4.2 Band. dengan pelanggaran Adam (Kej. 2:17) “pasti mati” ( muth tamuth ). Ketika engkau makan buah ini, maka engkau akan Mati, tetapi hal ini di rubah menjadi hidup yang kekal, yaitu lewat Kristus.
2.4.3 Band. dengan kedatangan Mesias (Yoh. 1:4; 3:16; 14:6) “hidup kekal” ( zoen aionion ).
3. Reaksi Abraham pada Allah, “Lalu sujudlah Abram” (3a)
4. Materai Perjanjian Allah (3b-8)
4.1 Landasannya firman Allah: “Allah berfirman kepadanya” (3b, band. Yoh. 1:3)
4.2 Perjanjian dari pihak Allah: “Dari pihakku, jadi janji itu berasal dari pihak Allah. inilah perjanjian-Ku dengan engkau” (4a)
[Kata perjanjian merupakan kata kunci, ditemukan 13 kali]
4.3 Rincian janji Allah:
4.3.1 Menjadi bapak bangsa-bangsa: “Engkau akan menjadi bapak sejumlah besar bangsa” (4b)..
a. “Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak” (6)
b. Sara mendapat anak (15-16)
c. Bandingkan Gal. 4:22-23; 4:30
d. Melalui Ishak, lalu Kristus, kita dihisapkan menjadi anak perjanjian (Gal. 4:28; 3:16, 26, 29)
4.3.2 Perubahan nama: “Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham” (5a) bandingkan dengan magen Avraham – Kej. 15:1. Dulunya Abram diganti dengan Abraham (tambahan Kata H), ini menunjukkan bahwa Allah ada dalam diri Abraham, sehingga apa yang tidak mungkin menjadi mungkin karena Allah ada dalam di Abraham. Demikian juga kita sebagai orang percaya. Apabila Allah itu ada dalam diri kita, maka yang tidak mungkin menjadi mungkin
4.3.3 Allah Abraham menjadi iman keturunan Abraham (ayat7)
4.3.4 Tanda dari pihak Allah: negeri Kanaan menjadi milik keturunan Abraham (ay. 8)
4.4 Kewajiban dari pihak Abraham dalam mengikatkan diri dengan janji Allah (9-14)
4.4.1 Dikerat kulit khatan menjadi tanda perjanjian (ayat 11)
Sunat ( berith mila ) menjadi tanda perjanjian penting bagi umat Perjanjian Lama. Dalam peristiwa Khanukka , Raja Antiokhus IV melarang untuk melakukan sunat. Pada saat itu, para ibu Yahudi langsung memutuskan untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Dalam tradisi Yahudi, sunat diadakan ketika anak berumur delapan hari. Meskipun hari kedelapan itu jatuh pada hari Sabat, sunat tetap harus dijalankan. Ritual penyunatan dalam tradisi Yahudi disebut mohel .
- Dalam Kristus menjadi ciptaan baru (2Kor. 5:17; Gal. 6:15)
Duhulu lewat sunatlah dinyatakan bahwa perjanjian Allah ada dalam diri seseorang. Tetapi setelah Firman Allah menjadi manusia (Kristus), maka lewat Kristus inilah perjanjian Allah itu ada dalam diri kita.
5. Reaksi manusiawi Abraham (17-18)..
5.1 Hidup mengandalkan YHWH atau diri sendiri (“mungkinkah”) (17) Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa,. Mungkinkah bagi seorang yang berumur sembilan puluh sembilan tahun mempunyai anak? Hal inilah yang membuat Abraham tertawa. Inilah kelamahan manusia, selalu berkata mungkinkah....., mungkinkah.......
5.2 Memaksakan keinginan atau kehendak Allah: (“Ah sekiranya”) (18). Ayat ini adalah sisi manusianya Abraham. Abraham ingin memberikan jalan keluar kepada Allah. Abraham memberiakan usulan kepada Allah Agar Allah berkenan kepada Ismael. Sebab pikiran Abraham menganggap bahwa tidak mungkin ia dan istrinya melahirkan anak lagi.
6. Solusi dari Allah
6.1 Janji Allah tidak berubah (19, 21), Ketika usul ini disampaikan Abraham, maka Allah menjawab tidak!! Melainkan istrimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu dan engkau akan menamai dia Ishak. Jadi dalam hal ini menjelaskan bahwa: apabila Allah berjanji memilih seseorang, tidak serampangan melainkan pribadi. TUHAN mengadakan perjanjian kekal lewat Ishak untuk keturunannya. IshaK adalah anak perjanjian, sedangkan
6.2 Ismael memperoleh berkat perjanjian (20, band. Kej. 16:7-10)
7. Allah meninggalkan Abraham untuk berjuang mematuhi dan mengimani janji Allah “naiklah Allah meninggalkan Abraham” (22)
Abraham melaksanakan perjanjian Allah (23-27). Selanjut Abraham mengadakan ikatan.
Kita sudah terikat dengan perjamuan kudus lewat Yesus. Hal ini sangat penting sebab hanya lewat Kristus itulah perjanjian Allah itu ada di dalam diri kita.
Satu hal yang perlu kita ingat sebagai umat kristiani adalah, bahwa kita ini adalah domba-domba Allah.
ke atas