Artikel
 
Pilih Kategori:
Google

  • Biblika
  • Dari Anda
  • Eksplorasi Alkitab
  • Ensiklopedi Teologi
  • Episcopal Messages
  • Info
  • Kesehatan
  • Khotbah...
  • Midrash
  • Tajuk
  • Semua Artikel
  • Bagaimana Tidak Berbuat Dosa
    Mazmur 51:1-21

    Dibaca sebanyak: 791 kali | | kirim ke teman

    Oleh: K.A.M Jusufroni
    Beri nilai artikel ini: bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)

    Mazmur ini memberikan keterangan yang cukup jelas mengenai penulis dan waktu penulisan. Namun, sejumlah penafsir menduga bahwa ayat 20 dalam Mazmur ini menunjukkan bahwa Mazmur ini ditulis pada waktu pembuangan di Babel. Dugaan ini tidak begitu kuat mengingat ayat 1-19 sangat didominasi oleh karakteristik tulisan Daud.
    baca lanjutan


    Karena itu, para penafsir lainnya mengatakan bahwa kemungkinan yang lebih dapat diterima adalah ditambahkannya ayat 20 dan 21 oleh editor Mazmur. Kemungkinan ini didukung juga oleh para penafsir Yahudi seperti Rabbi Aben Ezra. Bagi mereka, sangat mustahil bagi Daud untuk berbicara tentang pembangunan kembali tembok-tembok Yerusalem, sebab runtuhnya tembok-tembok Yerusalem terjadi pada periode sesudah Daud.

    Penambahan ayat 20 dan 21 sepertinya dimaksudkan untuk memasukkan unsur-unsur peribadatan dan kecintaan umat terhadap Sion. Karenanya, kuat dugaan bahwa kedua ayat tersebut ditambahkan ketika umat Israel mengalami kelesuhan pasca hancurnya Yerusalem. Keduanya bermaksud untuk membangkitkan semangat dan kepedulian mereka terhadap pembangunan kembali Sion.

    Penyebutan lamnatstseakh “untuk pemimpin biduan” dipastikan bukan berasal dari Daud. Frase ini ditambahkan ketika Mazmur menjadi bagian dalam liturgi Yahudi. Demikian juga dengan frase mizmor le-Dawid “mazmur Daud.”

    Mazmur ini ditulis ketika Natan menegur Daud (2Sam. 12). Artinya, ungkapan-ungkapan hati yang terurai dalam setiap lirik Mazmur ini, merupakan ungkapan hati Daud yang tidak saja berisi penyesalan, tetapi juga doa dan komitmen hidup baru.

    Dari sejak semula orang Kristen mengaku dosanya dengan perkataan
    (Mzm. 32:3-5; 38:2-5; 51:1-19; 130:1-8; dan ayat-ayat 25:7; 40:13; 41:5; 69:6). Pengakuan dosa yang termasuk liturgi gereja yang diambil dari liturgi Yahudi, lalu ditentukan oleh bapak-bapak gereja sebagai “mazmur pertobatan” (Mzm. 6:32; 51; 102; 130; 140). Samapai hari ini Gereja-Gereja mesih memelihara liturgi tentang penagkuan dosa ini. Hal ini penting sekali sebab, pertama; ingin menunjukkan bahwa sejak perjanjian lama, dari umat Yahudi tidak ada manusia yang benar dihadapan Allah. Satu-satunya cara adalah dengan mengetuk hati Allah dengan kerendahan hati lewat pengakuan dosa. Kedua , adalah sekaligus untuk mengajarkan kepada umat manusia bahwa manusia ini mengalami malapetaka, tragedi yang besar di dalam kehidupan manusia yaitu “dosa”.

    Dasar pengajarannya adalah “di antara yang hidup tidak seorangpun yang benar di hadapan Tuhan” (Mzm. 143:2), tetapi berdasarkan kasih karunia Allah yang menuntun anak-anak-Nya supaya di jalan Allah (Mzm. 103:10-14). Untuk itulah Yesus telah datang kepada kita sebagai Jalan—Kebenaran—Hidup (Yoh. 14:6), agar karena Dia kita dibenarkan (Rm. 4:25), agar kita layak disebut anak-anak Allah (Luk. 15:19 dan Yoh. 1:12).

    [3-4] Permohonan Ampun

    Ayat 3 sampai dengan ayat 4 berisikan tentang permohonan ampun. ayat 3 dan 4 ini secara sastra Ibrani memiliki persamaan yang indah dengan ayat 9-11. karena ayat 3 dan 4 merupakan sunguh-sungguh pengalaman seorang pribadi yang bernama Daud.

    [3] khanneni Elohim kekhasdekha kerov rakhamekha mekhe fesha'ai “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! ” --- Ada dua kata perintah di sini,“kasihanilah aku” khanneni dan “hapuskanlah” mekhe Daud meminta untuk dikasihani, rupanya Daud mengalami suatu kondisi yang sangat buruk, menyusul degan kata hapuskanlah, ini menunjukkan suatu beban,
    Ini menunjukkan suatu permintaan yang sangat mendesak. Daud merasa tak berdaya oleh dosa yang ia lakukan sendiri. Ia merasa kehilangan kebebasan dan senantiasa dibayang-bayangi oleh dosa itu. Dari dua kata diatas, kita dapat melihat bahwa kasih setia TUHANlah yang mampu menjawab beban umat manusia, kasih setia TUHANlah yang mampu berbelas kasihan kepada umat manusia.

    a. khanneni Elohim kekhasdekha “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu”

    Pemazmur menyerahkan diri kepada “kasih setia Tuhan” bukan kepada perbuatannya, yaitu Tuhan yang suka mengampuni (band. Mzm. 86:5)

    b. kerov rakhamekha mekhe fesha'ai “Hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar” --- Kata “hapuskanlah” merupakan terjemahan dari kata mekhe yang juga mengandung arti “bersihkanlah.” Ada kesadaran Daud dalam hal ini terhadap dosa yang telah ia lakukan. Ia berzinah dengan Batsyeba dan hal itu menjadi tekanan batin tersendiri bagi dirinya, apalagi setelah ditegur oleh Nabi Natan.

    Menurut kepada “kerahiman-Nya” – belas kasihan dan anugerah-Nya yang selalu dinyatakan berlimpah-limpah – rahmat-Mu yang besar (Mzm. 69:17 band. Yoh. 3:16). Penyerahan diri itu dilandaskan pada kemurahan Allah sendiri. “menurut kasih setia-Mu” kekhasdekha “menurut rahmat-Mu” kerov rakhamekha .

    [4] a. hereva kabbeseni me'aoni Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku

    Dosa seperti kotoran yang melekat pada badan kita, sehingga ada kata “bersihkanlah aku” kabbeseni . Secara harafiah berarti “menginjak-injak”, yaitu cara membersihkan kain atau jubah yang kotor saat dicuci (2Raj. 21:13; Bil. 5:23; Ams. 30:23; Yes. 25:8)

    •  umekhattathi taharni “Tahirkanlah aku dari dosaku” --- Kata “tahirkanlah aku” taharni secara harafiah berarti “menjadikan bercahaya” atau “memurnikan.” Dalam makna spiritual, kata taharni lebih sering diartikan “bebaskanlah aku dari dosa” atau “lepaskanlah aku dari dosa.” Supaya Tuhan tidak mengingat lagi menjadi alasan untuk menghukum (Yeh. 36:25; band. Bil. 19:9-22; upacara pentahiran).

    Allah memberikan kesempatan kepada kita seperti apa yang dialami oleh Daud, dimana Allah memiliki rahmat yang sangat besar. Rahmat Allah itu tidak setengah-setengah melainkan besar. Karena itu dikatakan dalam ayat ini “bersihkanlah aku” sama dengan kata “hapuskan” (Ayat 4). Bersihkanlah aku dari segala kesalahanku, tahirkanlah aku dari segala dosaku. Kita perhatikan disini bahwa tidak ada perkataan Daud yang mengatakan “bebaskanlah aku dari tuntutan-tuntutanMu, bersihkanlah aku dari hukuman-hukumanmu, ternyata tidak!!! Kita harus menyadari bahwa kita yang menghukum diri kita sendiri, dosa yang kita lakukan tidak disuruh oleh siapa-siapa, melainkan oleh kita sendiri, kita tersiksa oleh karena perbuatan kita sendiri, kita terhukum karena perbuatan kita sendiri, bukan karena hukuman Allah. Allah dari sejak awal memberikan pemeliharaan, kasih setia, kemurahan yang luar biasa. Karena pengalaman ayat 3 dan 4 ini dialami oleh Daud secara pribadi, untuk itu dian ingin menyaksikan kepada umat yang lain, termasuk kita sekarang ini, sehingga dibuatlah ayat 9-11 ini.

    Ayat 9-11: Permohonan ampun

    (Kesadaran yang begitu mendalam atas “dosa”-nya, dan begitu sadar “dosa” adalah masalah besar, yang sangat menentukan mati-hidup dan kelanjutan masa depan. Di sini juga terkandung pengakuan yang menjadi landasan pengajaran bahwa pengampunan Tuhan dapat menghapus dosa secara total)

    [“lepaskanlah aku dari dosaku”]

    [9] a. tekhatte'eni ve'ezov “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop we'ethar “maka aku menjadi tahir” --- “Hisop” mempunyai arti rohani “imputasi kebusukan menjadi harum” karena hisop itu harum adanya.
    Di Palestina, hisop biasanya tumbuh di atas tanah yang berbatu dan tingginya 50-80 cm. Tumbuhan inilah yang digunakan orang Israel ketika memercikkan darah di pintu rumah mereka ketika mereka berada di Mesir (Kel. 12:22).

    Selain itu, hisop juga digunakan untuk ritual pentahiran, misalnya mentahirkan orang yang terkena lepra (Im. 14:4), serta mentahirkan orang yang dianggap najis karena menyentuh mayat (Bil. 19:6) [band. Im. 14:6, 49, 51 dan 1Raj. 4:33]. Pada zaman Yesus, hisop digunakan ketika Yesus diberi anggur asam di atas kayu salib (Yoh. 19:29). Dan ini yang dilambangkan ketika Yesus diatas kayu salib, tersiksa sebelum melepaskan nyawanya justru hisop diapakai untuk menjadi alat mngangkat anggur asam untuk diminumnya. Ini melambangkan bahwa seperti hisoblah Yesus itu. Untuk menebus dosa kita Dia disiksa, tubuhNya pecah, mengeluarkan darah tapi dari darah yang suci yang keluar itu justru menghisab bau busuk yang ada dalam diri kita, bahkan sebaliknya bau busuk setelah dihisap Dia memberikan keharuman bagi kehidupan kita.

    b. tekhabbeseni umishsheleg albin “basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju ” --- Keyakinan menjadi bersih kembali secara utuh untuk tidak melanjutkan perbuatan dosa (Rat. 4:7). Tetapi kata lebih putih dari salju mengambarkan apabila Allah memulihkan maka kita lebih bersinar, lebih kemilau , bukan hanya sekedar putih. Tetapi Kuncinya adalah pertobatan.

    [10] tashmi'eni shasun wesimkha aku mendengar kegirangan dan sukacita

    Pemulihan karena pengakuan dosa dan pengampunan Allah berpadu dalam “pemulihan” seperti tulang yang remuk dapat dipulihkan kembali, mustahil bagi manusia, tiada mustahil bagi Allah (Ams. 15:15).

    [11] haster panekha mekhata'ai Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku

    Merupakan sebuah ungkapan tidak ada tuntutannya lagi, tidak ada penghukuman lagi. Ketika Yesus mati di kayu salib, langit gelap gulita.

    [catatan: ayat 3-4 dan 9-11; susunan baris seperti kiastik/penyilangan]

    [5-8] Pengakuan Dosa

    [5a] ki-fesha'ai ani eda' aku sadar akan pelanggaranku

    Pengakuan kesalahan sama halnya memohon pengampunan, kesadaran akan dosa dan kejujuran pengakuan adalah tanda pertobatan (Mzm. 32:5; Yer. 14:7). Tanpa pengakuan dosa tidak mungkin ada pengampunan (Yer. 2:35).

    [5b] wekhattathi negeddi thamid aku senantiasa bergumul dengan dosaku

    Dosa membelenggu dan menekan hati manusia, seperti bayang-bayang tidak bisa dilepaskan dari diri manusia, kecuali terang tanpa sisi gelap, seperti terjemahan lain mengatakan “dosaku selalu terbayang (ada) di hadapanku” (Mzm. 16:8; 38:18; 50:8).

    [6] Tuhan itu adil dan bersih dalam segala tuntutan-Nya karena menyadarkan manusia untuk lebih baik, mendidik dan mengajar supaya manusia diselamatkan.

    [7] ayat ini tidak mengatakan bahwa persetubuhan suami istri adalah dosa
    (band. Mzm. 139:13-16; Ayb. 10:8-12; Rut. 4:13) tetapi lebih ingin menekankan bahwa manusia dilahirkan dalam dunia yang penuh dosa. Seluruh manusia ditandai kecenderungan berbuat jahat (Kej. 8:21). Tetapi manusia yang hidup dalam Kristus tidak terus-menerus di dalam dosa.

    [8] Tuhan memakai “hati” manusia bahkan untuk menyadarkan manusia, sehingga manusia jadi lebih berhikmat.

    hen-emeth khafatsta vattukhoth uvsathum khokhma thodi'eni “Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam membuat aku mengenal hikmat” (Ayb. 25:4)

     

    [12-14] Pemulihan

    1. [12] Hati yang murni membuat rohnya menjadi baru, sehingga menjadi teguh “sesuatu hati yang tahir”, karena roh yang baru (Yeh. 36:21).

    2. [13] alasan yang paling pokok supaya ayat 13 terjadi jika tanpa Roh Allah, maka tidak ada kekuatan untuk membaharui—memulihkan (Yes. 63:10-11)

    3. [14] Sukacita yang dipulihkan karena kerinduan dalam ayat 10, betul-betul terjadi sehingga gairah—semangat yang disebut dalam “roh yang rela.”

     

    [15-19] Janji Hidup Baru

    1. [15] Melayani Tuhan

    2. [16] Menyaksikan kemerdekaan dari dosa

    3. [17] Mulutnya penuh puji-pujian

    4. [18-19] Mempersembahkan hidup pertobatan.


    ke atas
    Masukkan Username dan Password Anda
    untuk login ke situs ini

    Username:

    Password:

    Daftar | Lupa password

    Shalom 38.103.63.60!

    Jika Anda merasa bahwa artikel ini penting untuk dibagikan ke teman Anda, silakan kirim ke teman Anda

    Atau beri nilai artikel ini:
    bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)

    Tanggapan Pembaca:

    Kirim Tanggapan

    oyr79 (08 Nov 2007):
    Octafred Yosi RKaset atau VCD bisa dipesan melalui PT. Cipta Lahai Roi (021) 584-0483

    lay2373 (25 Okt 2007):
    Lambertus Layartikel sangat memuaskan, apakah saya bisa mendapatkan rekamannya (kaset/cd) makasih, GBU


    << sebelumnya | berikutnya >>
    total: 2 data

    Kategori Artikel: Khotbah...
    Dimasukkan pada: 27 Mar 2006 oleh: oyr79
    Terakhir dimodifikasi pada: 27 Mar 2006
     
    LOGIN: Username: Password:
    Jika Anda memiliki masalah, silakan hubungi salah satu admin kami yang online:
    ifh69 Kirim pesan mi_anokhi Kirim pesan oyr79 Kirim pesan Siwajoe Kirim pesan varry Kirim pesan