Sejarah masa Pencerahan (
Enlightenment Age ) Barat, setelah ratusan tahun tenggelam dalam masa kegelapannya, adalah buah/prestasi dari gagasan besar para tokoh zamannya, sebut misalnya, Galileo, Copernicus, Francis Bacon, Immanuel Kant, Thomas Aquinas, dan seterusnya.
Pendek kata, tanpa 'dentuman' pemikiran besar mereka yang mampu membalik dan merevolusi cara pandang atau paradigma berpikir manusia, sangat mungkin peradaban manusia akan tetap berjalan di tempat, atau bahkan mundur. Namun demikian, dalam setiap fase zaman, selalu ada tokoh pencerahannya sendiri: Augustinus, Martin Luther, Calvin, Karl Bart, Gustavo Guiteres, hingga Romo Mangun Wijaya, Eka Darmaputera dan Th. Sumartana serta teman-teman sezamannya adalah sebagian tokoh yang bisa disebut membawa pengaruh penting bagi peri kehidupan sosial, politik, budaya serta berperan besar dalam mencerahkan umat di zamannya masing-masing.
Selain pengaruh besar gagasannya, para tokoh di atas bisa dikatakan sebagai 'penjaga gawang' paling setia dalam menghormati rasionalitas dan kekuatan hasil olah pikir manusia sebagai media perubahan, agar tidak jatuh pada kekuatan lain seperti hal-hal gaib, mistik dan yang bersifat supranatural, tanpa bermaksud mengabaikan secara absolut eksistensinya.
Jika kekuatan seperti itu (gaib, mistik, dan sejenisnya) menjadi sandaran, harapan dan media penyelesaian masalah manusia, bisa jadi fenomena itu merupakan indikasi kuat hilangnya kekuatan pemikiran umat manusia.
Dalam konteks keberagamaan, kuatnya pengaruh sekulerisme Barat, telah cukup lama menciptakan tantangan dan tuntutan besar dalam kehidupan beragama. Ketidakmampuan berkompetisi dengan kepungan pengaruh budaya dan kemajuan pesat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi modern menjadikan umat beragama justru banyak berpaling mencari ”rasa aman” pada hal-hal yang bersifat kepuasan batiniah dan supranatural.
Agama pada akhirnya hanya menjadi 'tempat pelarian' ( escaping ) ketidakmampuan manusia menghadapi realitas kehidupannya sendiri, bukan peran substantifnya untuk membebaskan dari kebodohan, ketidakberadaban, penindasan demi perbaikan harkat dan martabat kemanusiaan yang lebih baik.
Fenomena maraknya tayangan sinetron, reality show dan berbagai macam acara beraroma mistik/gaib di dunia telivisi kita akhir-akhir ini, ditambah meningkatnya intensitas acara-acara bernuansa ”pesta rohani” yang diselenggarakan baik dikalangan Kristen maupun Islam, dapat menjadi contoh aktual bagaimana agama mulai kehilangnya kekuatan pemikirannya. Termasuk buku-buku yang menjadi pilihan umat bergama, atau yang menjadi best seller , masih terkait dengan tema agama yang hanya diposisikan menjadi 'obat batin' an sich .
Yang lebih menarik adalah beberapa kasus yang diyakini sebagai ‘kesurupan' yang menimpa anak-anak SMU dan para buruh di berbagai daerah, ditayangakan di televisi baru-baru ini, diobati oleh para paranormal dan tokoh agama dengan cara mengusir roh gaib, jin atau setan yang masuk ke tubuh mereka.
Entah mengapa masyarakat begitu mudah yakin dan percaya bahwa itu adalah serangan mahluk dari alam gaib? Tidak adakah alasan rasional yang bisa diterima semisal faktor psikologis atau kesehatan?
Yang jelas, fenomena sebagian umat beragama yang kembali berpaling dan melarikan diri pada segala yang bersifat supranatural di atas merupakan peringatan tegas bagi semua umat beragama yang percaya pada kekuatan pemikiran manusia sebagai media perubahan.
Jika tidak segera disikapi secara ofensif , bisa jadi, hal ini akan menjadi indikasi dan pintu awal dari kekalahan total pemikiran umat beragama dalam menghadapi tantangan realitas zamannya. Sebab, semakin hari pemikiran (dalam Kristen maupun Islam) yang vital dan berperan aktif memberi kontribusi dan menghasilkan buah bagi perubahan dan perbaikan dalam kehidupan politik, sosial dan budaya nampak semakin kering. Tanya, Kenapa? (JRI)
ke atas