Hal spesifik yang membedakan sumber P dengan sumber lainnya adalah penggunaan nama TUHAN. Sumber P menggunakan kata
Elohim dalam penyebutannya tentang Allah. Sumber ini mengidentifikasi TUHAN sebagai
El Shaddai (TUHAN Yang Maha Kuasa), sebuah istilah yang berasal dari penyebutan masyarakat kuno, yang secara harafiah berarti “Dia Yang Dari Gunung.”
Kata lain yang dominan dalam sumber P adalah kata “
tholedoth ” yang dalam alkitab terbitan LAI sering diterjemahkan “silsilah, riwayat, tawarikh.” Itulah sebabnya, banyak ahli tafsir menduga bahwa Kej. 2:4a adalah bagian penutup dari sumber P. Padahal, P lebih sering menggunakan kata itu sebagai pembuka narasinya.
P tidak bercerita tentang “dari surga” tetapi lebih “surga-sentrik.” Segala sesuatu terpusat di surga. Karena itu, P lebih banyak menggambarkan tindakan aktif TUHAN, sedangkan manusia sering menjadi mahluk yang pasif.
Betapa telitinya P dalam menuliskan pemikirannya, sehingga banyak ahli menduga bahwa P bukanlah seorang pribadi ataupun kelompok. Menurut E. A. Speiser, yang pernah menjadi ketua Departemen Studi Oriental di Universitas Pennsylvania, Philadelphia, P adalah sebuah institut atau sekolah yang tidak pernah kehilangan hubungan dengan sejarah masa lalu Israel. Karena itu, P sangat ditail menggambarkan riwayat sejarah bangsa itu.
Ketelitian dalam menafsirkan naskah-naskah P akhirnya menjadi syarat mutlak bagi siapa saja yang ingin menafsirkan naskah ini. Ketelitian itu bukan sekedar teliti dengan setiap kata yang digunakan, tetapi juga dengan setiap huruf yang dipilih.
P mengawali naskahnya dengan kata
bereshith , yang diawali dengan huruf
beth (B). Huruf
beth dalam abjad Ibrani, selain menggambarkan “perlindungan”, juga menggambarkan suatu
progress ke depan yang berawal dari atas (surga). Ini menunjukkan tindakan kreatif TUHAN yang terus-menerus berlaku di setiap periode sejarah.
Masalah yang sering muncul dalam upaya menafsirkan sumber P adalah pengetahuan Bahasa Ibrani. Almarhum DR. A.A. Sitompul, ketika pertama kali mengajarkan tafsir Perjanjian Lama di kelas saya, mengatakan “Bagi seorang mahasiswa teologi, hanya ada dua kunci untuk memahami keseluruhan PL, yaitu Bahasa Ibrani dan pengetahuan sejarah Israel.” Tentu saja beliau tidak sedang berbicara tentang aspek rohani.
Pernyataan itu akan Anda rasakan kebenarannya ketika menggali sumber P. Seorang ahli Bahasa Ibrani sekalipun cukup kewalahan ketika harus menafsirkan sumber P. Misalnya ketika menafsirkan Kej. 1:1 “
bereshith bara Elohim... ” dalam naskah aslinya hanya tertulis “
b-r-sh-y-th b-r-‘ ‘-l-h-y-m ” yang bisa saja dibaca “
bereshith bara Elohim ” (pada mulanya TUHAN menciptakan), bisa juga “
bereshith bero Elohim ” (pada awal penciptaan yang dilakukan oleh TUHAN).
Lalu, bagaimana dengan pengaruh mitos-mitos Babilonia? Kenapa P harus mengadopsinya? Pengaruh mitos-mitos Babilonia ke dalam naskah ini memang sangat kasat mata. Hal ini dianggap wajar sebab pada periode P, filsafat dan tradisi Babilonia ibarat filsafat dan tradisi Yunani pada zaman Yesus. Pada waktu itu, sains bukanlah aspek yang terpisah dari agama. Kajian-kajian terhadap kosmologi atau alam semesta tidak sekedar berdasarkan pada apa yang sanggup ditangkap oleh indra manusia, tetapi juga menurut analisa keagamaan.
Kedua aspek kaji tersebut, agama dan sains menyatu sedemikian rupa dan melahirkan sistem kepercayaan yang kokoh di Babilonia. Tradisi ini diadopsi oleh P ketika P berbicara tentang TUHAN, manusia, dan alam semesta. Intinya, P menggambarkan alam semesta secara keseluruhan sebagai bagian dari alam ilahi. Dunia yang diciptakan TUHAN dan sekaligus dikontrol oleh TUHAN.
Makna Teologi Penciptaan
Saya mencatat ada lima hal penting yang ingin disampaikan melalui kisah penciptaan P tersebut:
• TUHAN Yang Esa
Kitab Kejadian ditulis pada periode politeistik, dimana umumnya manusia di seluruh dunia mengenal banyak dewa. Apalagi, pada waktu itu, pandangan Babilonia sangat mempengaruhi kepercayaan penduduk mayoritas, khususnya mengenai adanya panteon (majelis ilahi) itu.
Di tengah-tengah pandangan politeistik itu, kitab Kejadian justru menawarkan suatu pandangan yang sangat monoteistik, meskipun masih dipengaruhi oleh bahasa-bahasa dan pemikiran politeistik. Pandangan monoteistik ini sangat kental dan menjadi ciri khas Yahudi yang tidak mungkin disangkal oleh siapapun.
• TUHAN sebagai Pencipta
Ketika agama-agama lain mengatakan bahwa dunia ini adalah produk dari kekacauan (pertentangan antar dewa dalam mitos Babilonia), kitab Kejadian justru mengatakan bahwa dunia ini adalah produk sempurna TUHAN Yang Esa itu. TUHAN adalah Pencipta, sekaligus Pemelihara ciptaan-Nya.
• TUHAN yang Transenden
Dewa-dewi banyak diceritakan berkedudukan di atas gunung, di bawah tanah, di pepohonan, laut, dsb. Namun, Alkitab menolak pandangan itu dan mengatakan bahwa TUHAN itu transenden, mengatasi segala ciptaan-Nya dan berada di luar ciptaan-Nya. TUHAN yang transenden itu bukan juga TUHAN yang lepas tanggung jawab, seperti kepercayaan agama-agama lain terhadap dewa pencipta, melainkan Ia secara aktif hadir dan memelihara keharmonisan ciptaan-Nya (imanen). Segala bentuk kerusakan dan kehancuran dunia, menurut Alkitab, tidak lepas dari keserakahan manusia untuk melawan TUHAN, bukan disebabkan oleh TUHAN.
• Demitologisasi
Matahari, bulan, bintang, dsb menurut tradisi agama lain diyakini sebagai tempat para dewa bertahta. Bahkan ada keyakinan bahwa matahari, bulan, dsb itu adalah para dewa itu sendiri. Alkitab dengan tegas menolak hal itu, dan menyebut semua itu sebagai bagian dari apa yang diciptakan TUHAN.
• Manusia sebagai Gambar TUHAN
Manusia bukanlah hamba atau budak para dewa, melainkan manusia adalah ciptaan Allah menurut “gambar” ( tselem ) dan “rupa” ( demuth ) TUHAN. Karena itu, manusia memiliki tanggung jawab total untuk memilihara ciptaan TUHAN dan diberi hak untuk mengeksploitasi ciptaan TUHAN itu, bukan merusaknya .
------------------------
Saran Bacaan : Blommendal, J. 1999. Pengantar Kepada Perjanjian Lama . Jakarta: BPK Gunung Mulia. ■ Diel, Paul. 1986 The God Symbol: Its History and Its Significance . San Fransisco: Harper & Row Publishers ■ Halley , Henry H. 1965. Halley's Bible Handbook . Michigan: Zondervan Publishing ■ LaSor, W.S. 2000. Pengantar Perjanjian Lama I: Taurat dan Sastra . Jakarta: BPK Gunung Mulia ■ Smith, Mark S. 1990. The Early History of God: Yahweh and the Other Deities in Ancient Israel. San Fransisco: Harper & Row Publishers ■ Speiser, E.A. 1987. Genesis: A New Translation with Introduction and Commentary . New York: Doubleday & Co. ■ Trepp, Leo. 1973. A History of the Jewish Experience: Eternal Faith, Eternal People . New York: Behrman House, Inc. ■ Ucko, Hans. Akar Bersama: Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen-Yahudi . Jakarta: BPK Gunung Mulia ■ Vriezen, Th. C. 2003. Agama Israel Kuno . Jakarta: BPK Gunung Mulia ■ Wahono, Wismoady. 1993. Di Sini Kutemukan: Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab . Jakarta: BPK Gunung Mulia ■ Wenham, Gordon. J. 1990. World Biblical Commentary: Genesis 1-15 . Dallas: Word Books Publishers
ke atas