Artikel
 
Pilih Kategori:
Google

  • Biblika
  • Dari Anda
  • Eksplorasi Alkitab
  • Ensiklopedi Teologi
  • Episcopal Messages
  • Info
  • Kesehatan
  • Khotbah...
  • Midrash
  • Tajuk
  • Semua Artikel
  • Yang Diperlukan Rasa Malu... Bukan Rasa Bersalah!

    Dibaca sebanyak: 360 kali | | kirim ke teman

    Oleh: JRC
    Beri nilai artikel ini: bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)

    "Rasa malu" dan "rasa bersalah" adalah respon yang wajar ketika seseorang gagal mengemban suatu tugas atau tanggung jawab. Namun, ada perbedaan antara "rasa bersalah" dengan "rasa malu." Rasa bersalah cenderung lebih bersifat pribadi/subyektif, sedangkan rasa malu memiliki dimensi tanggung jawab sosial.
    baca lanjutan


    Peristiwa di Taman Eden (Kej. 3) dapat kita jadikan landasan untuk memahami perbedaan keduanya. Selama ini, tindakan Adam dan Hawa untuk bersembunyi dari YHWH diakibatkan oleh rasa bersalah mereka kepada YHWH, tetapi sebenarnya tindakan tersebut merupakan akibat dari rasa malu mereka.

    YHWH memberikan amanat dan tanggung jawab yang besar kepada mereka, yaitu “berkuasa” atas segala ciptaan YHWH. Mereka diciptakan menurut gambar (tselem) dan rupa (demuth) YHWH (Imago Dei). Namun, pada kenyataannya, mereka gagal. Hawa dengan mudahnya dibujuk oleh ular, ciptaan YHWH yang mestinya berada di bawah kuasanya. Begitu juga Adam, ia gagal menyelamatkan istrinya, bahkan ikut terpengaruh oleh “penolong yang sepadan dengan dia” itu.

    Keduanya merasa bersalah telah memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, tetapi bukan rasa bersalah itu yang membuat mereka bersembunyi dari YHWH, melainkan karena mereka malu. Mereka malu karena ternyata mereka tidak cukup layak untuk diberi amanat dan tanggung jawab sebagai yang “berkuasa” atas ciptaan YHWH.


    Jika ditilik lebih mendasar, agama sedikit banyak ikut memberi kontribusi bagi pemupukan rasa malu dan rasa bersalah ini. Ketika pertama kali mengenal agama, manusia selalu diposisikan pada perasaan “bersalah” yang berlebihan. Suatu kesalahan kecil diklaim dengan kata “dosa” yang disertai ancaman “masuk neraka” yang sangat mengerikan. Jadinya, banyak orang merasa serba salah. Bahkan, tidak sedikit di antaranya yang mengalami frustasi dan kemudian menolak agamanya sendiri.

    Sering juga, Tuhan digambarkan sebagai Tuhan yang menakutkan. “Jangan bikin ini! Nanti Tuhan marah!” Akibatnya, Tuhan lebih dikenal sebagai Tuhan yang “pemarah”, Tuhan yang mendatangkan “azab” yang mengerikan gara-gara dosa manusia, dan sayangnya... religiusitas semacam ini kian mendominasi tayangan-tayangan televisi kita.

    Di sini kemudian terjadi proses mempersepsi Tuhan. Bahwa Tuhan tampil dan hadir pada diri seseorang memang sangat tergantung dari bagaimana seseorang “mempersepsikan Tuhan”. Sementara proses mempersepsi Tuhan ini sangat tergantung atau dipengaruhi oleh ‘modal sosial’ (lingkungan sosial, kultur, adat dan budayanya) dan ‘modal intelektual’ (tingkat pendidikan, bahasa dan keluasan pengetahuan) seseorang. Namun, dalam tujuan mempersepsi Tuhan, kedua modal di atas berkumpul menjadi sebuah pemahaman keagamaan.

    Ketika pemahaman agama seseorang dipenuhi dengan ‘beban’ dosa dan ancaman maka, Tuhan akan dipersepsikan sebagai sesuatu yang keras dan suka mengancam. Tetapi sebaliknya, jika pemahaman seseorang tentang Tuhan dipenuhi oleh rasa cinta maka Tuhan akan hadir dalam persepsi yang penuh kasih dan damai pada hambanya.

    Di tengah kondisi bangsa dan negara kita yang terus dihujani masalah. Dapatkah “rasa bersalah” membantu menyelesaikan masalah? Bukankah banyak orang sekarang ini merasa bersalah dan sadar bahwa ia bersalah? Justru “rasa malu”-lah yang telah hilang, sehingga tidak banyak membantu menyelesaikan masalah.

    Kepada jemaat Korintus yang sarat akan kesalahan dan keras kepala, Paulus dengan tegas berkata “Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.” (1Kor. 15:34) (JRC)
    ke atas
    Masukkan Username/Email dan Password Anda
    untuk login ke situs ini

    Username/Email:

    Password:

    Daftar | Lupa password

    Shalom 38.107.191.103!

    Jika Anda merasa bahwa artikel ini penting untuk dibagikan ke teman Anda, silakan kirim ke teman Anda

    Atau beri nilai artikel ini:
    bintang (5 terbaik dan 1 terburuk)
    Kategori Artikel: Tajuk
    Dimasukkan pada: 01 Des 2005 oleh: oyr79
    Terakhir dimodifikasi pada: 22 Jan 2006

    Tanggapan Pembaca:

    Kirim Tanggapan

    Belum ada tanggapan...

    SILAKAN LOGIN UNTUK BISA MEMBERIKAN KOMENTAR


    << sebelumnya | berikutnya >>
    total: 0 data

     
    LOGIN: Username/Email: Password:
    Jika Anda memiliki masalah, silakan hubungi salah satu admin kami yang online:
    mi_anokhi Kirim pesan oyr79 Kirim pesan varry Kirim pesan